oleh

Sisi Lain Persis Kabupaten Tasikmalaya, Dakwah dan Seni (Upaya singkat menelusuri paradigma dakwah “ART” di Persis Kab. Tasikmalaya)

Tasikmalaya, hayatuna.net – Persatuan Islam (PERSIS) Tasikmalaya, belahan kabupaten, memiliki mata air sejarah dari tokoh kenamaan yang gandrung dengan seni musik; musisi modern pada eranya. Tercatat ada sesosok penyeru dakwah berdarah Jawa yang memilih lakon pejuang Qur’an sunnah. Di samping lihai bermain musik melalui gemulaian tangannya saat memainkan gitar dan biola, produksi pikiran beliau juga turut mempersembahkan karya berupa ciptaan lagu yang melegenda.

Beliau lahir dari suku asli Jawa, dan berjodoh dengan mojang Muslimah asal Bandung. Pernikahan ini yang kemudian dipandang sebagai cikal bakal lahirnya pemikiran keislaman beliau yang relatif mampu mengkombinasikan antara Islam modernis dan corak seni yang romantis.

Bukan suatu keanehan sejak saya duduk di jenjang Madrasah Diniyah dulu, antara tahun 2000-an, dan bahkan sebetulnya sudah tahunan lebih lama dari itu telah mewujudnya pagelaran Haflah Imtihan (sejenis samen) yang dilakoni oleh santri, di samping tampilan berupa pidato dan hafalan Qur’an serta hadis, kami juga dipersiapkan untuk mementaskan pagelaran beraksen seni; memerankan drama, menampilkan sisindiran, puisi, nyanyian, standen, dan tarian. Malah terkadang, membahanakan suara mujahid, sejenis orasi.

Memasuki tingkat Tsanawiyah di Pesantren Persis 32 Panyusuhan, Ciawi, Kab. Tasikmalaya, saya merasakan kesan lebih kental. Haflah dalam bahasa Nusantara yang berarti perayaan, dan Imtihan setingkat maknanya dengan ujian, maka Haflah Imtihan dimaknai sebagai hiburan bagi santri Persis yang baru saja menyelesaikan masa ujian. Pemaknaan tersebut ditandai dengan rangkaian acara Haflah Imtihan yang mentradisi dengan ekspresi seni santri, meliputi luapan ekspresi keislaman, kesusestraan, teatrikal, permusikan, dan budaya.

Demikian juga semasa mengenyam ilmu di Pesantren Persis SMA Plus Muallimin 182 Rajapolah, pendidikan seni lebih berkembang lagi. Diantaranya penguatan olah vokal, teatrikal drama, melukis, musikalisasi puisi, dan pendalaman lagu daerah serta lagu nasional.

Sempat terbesit dalam benak saya, bagaimana bisa pesantren yang pada umumnya lebih dikenal sebagai medium eksklusif yang secara khusus mendalami ilmu Islam, namun di tempat penempaan keagamaan ini justru seni bukan hanya sekedar pentas dadakan tahunan belaka, tapi turut juga diajarkan pelatihannya dalam waktu mingguan secara terukur dan berkala.

Dikala prosesi tersebut, rasanya cukup minder bila santri Persis tidak pandai “seminimalnya” memainkan gitar. Apalagi sampai anti seni dan musik, hal itu tidak terlintas sama sekali di alam pikiran.

Hemat kesimpulan dari sejarah yang dialami, saya yakin bahwa tradisi seni musik di Persis Kabupaten Tasikmalaya memiliki akar yang sangat kuat. Lebih dalam, hal itu menjadi semacam tanda sebuah keniscayaan adanya paradigma dakwah modernis di tubuh internal Persis Kab. Tasikmalaya sejak awal keberadaannya.

Keunikan tradisi mesantren dari lembaga Pesantren Persis yang menjadi peletak keislaman kami, secara perlahan, dari tahun ke tahun tidak terlepas dari bertambahnya daya keingintahuan saya seiring bertambahnya usia kematangan untuk terus menggali dan mengenal lebih dalam lagi. Alhasil, upaya menelusuri akar tradisi seni  di Pesantren Persis, khususnya Kabupaten Tasikmalaya menjadi gugahan yang menggembirakan.

Dalam penelusuran yang baru beberapa saat dan sangat singkat ini, kami dapati bukan main banyaknya asatidzah Persis di Kabupaten Tasikmalaya yang mahir dalam memainkan alat musik tertentu. Sebut saja alat musik dipetik semisal gitar, alat musik dipukul seperti drum, angklung, dan kendang, alat musik gesek seperti biola, alat musik sentuhan seperti piano, serta alat musik tiup seperti suling dan harmonika, kesemuanya dimiliki oleh beberapa asatidzah yang, bila saja hendak dilihat dari kesehariannya sekarang, rasanya mengherankan. “Ah, masa iya beliau-beliau pandai seni dan bermusik..?!”

Di garis kasepuhan misalnya. Hari ini ada nama yang menjadi representasi musisi. Beliau masih sangat segar dan bugar. Orang lebih mengenal beliau sebagai sosok nyentriknya Persis Kabupaten Tasikmalaya. Di samping khas karena rambutnya yang panjang melebihi bahu, beliau juga memiliki jiwa seni yang tinggi. Satu sisi, kepiawannya mendesain bangunan dalam rupa gambar, menjadikan beliau dihormati sebagai arsitek. Tak heran, banyak orang menggunakan jasa gambarnya untuk bangunan mereka. Pada sisi lainnya, beliau berjiwa muda dan senang dengan dunia sosial. Tak heran, beliau mengenal dan sekaligus dikenal oleh banyak kalangan dari berbagai genre masyarakat.

Secara lebih khusus, beliau yang sering disapa dengan panggilan Ustadz Dede Amsa ini merupakan seniman yang dari olahan karsa indera serta rasanya, sering menunjukkan buah karya gitar ciptaan tangannya sendiri.

Beberapa kali berjumpa dengan beliau dalam beberapa cengkrama santai, disampaikan suatu kekaguman beliau akan sosok guru yang menginspirasinya dalam meretas jalan perjuangan dakwahnya selama ini.

Allahuyarham, Ustadz Suraedi, seorang pensiunan tentara asal Jawa, seorang tokoh cerdas dan berjiwa seni, diakui oleh Ustadz D. Amsa merupakan orang hebat yang berhasil mempengaruhi cara pandang masyarakat tentang Islam, tak terkecuali dirinya. Bukan hanya ceramah mimbariah, kata D. Amsa, Ustadz Suraedi juga menggunakan seni dan musik sebagai medium dakwah.

Terwariskan secara turun temurun, seni musik menjadi semacam kekhassan santri Persis di Kabupaten Tasikmalaya. Peletak dasar pertamanya, alm. Ustadz Suraedi berhasil menancapkan sejarah seni musik di tubuh Persis. Diantara karya beliau yang menasional ialah Mars Pemuda Persis, Mars RG, Hymne UG, dan Mars RG-UG.

Setelah kewafatannya, Persis dengan seni di kota santri masih nampak harmonis. Di pesantren-pesantren, pagelaran seni dan tampilan musik masih berjalan secara kelindan. Bahkan, diantara bukti keseriusan dari upaya meneruskan dakwah seni tersebut, pada tahun 2007 berdiri grup band nasyid bergaya pop rock yang digawangi oleh Ustadz Dede Amsa dkk.

Selain mendapat dukungan penuh dari PD. Persis, Grup band bernama “Salsabila Voice” itu diharumkan juga oleh tokoh Persis yang merupakan putra kandung almarhum Ustadz Suraedi yaitu alm. Ustadz Abdul Aziz Al-Fadhol, atau yang lebih akrab disapa Ustadz Adong.

Dalam beberapa pemikiran Islam modernis, beliau yang dikenal jago mantiq dan matematika ini, di samping memiliki kecenderungan dakwah seni musik, juga memiliki paradigma politik yang mengesankan. Keikutsertaannya di pencalonan anggota DPRD kab. Tasikmalaya pada tahun 2009, telah memberikan penjelasan tentang cara pandang siyasah yang dipegangnya.

Dari berbagai peristiwa tersebut, dapat kita fahami bahwa dakwah dan seni di masyarakat Persis Kabupaten Tasikmalaya memiliki hubungan mesra dalam upaya mengembangkan syiar dakwah Qur’an sunnah di kota santri.

Maka tak heran, jika pada era milenial sekarang, kita menemukan para kader Persis Kabupaten Tasikmalaya yang berkecenderungan seniman dalam prilaku keberjam’iyyahannya.

Bukankah salahsatu putera kandung alm. Ustadz Suraedi, yakni Ustadz Taimullah As-Sabiq, ulama Persis Kab. Tasikmalaya, juga senantiasa menunjukkan kepiawaiannya dalam memukul drum di setiap Haflah Imtihan? dan itu masih dilakukan sampai sekarang. Contoh lainnya, Kepala MTs. Persis Kadipaten, Ustadz Mahmudin Al-Andiry yang dalam perjuangannya menembus masyarakat muda di Tasik bagian barat dengan sentuhan dan petikan-petikan gitar. Lalu, tokoh muda dari Tasik bagian utara, Ustadz Dede Reviana Ibrahim yang sangat gemulai dan lincah memainkan sentuhan jemarinya di keyboard. Dan di barisan perempuannya terdapat nama Bu Lies Kurniasih yang  hari ini menduduki ketua PD. Persistri Kab. Tasikmalaya dengan suara emas yang dimilikinya. Serta nama-nama lain yang belum bisa saya sebutkan dalam tulisan ini.

Oleh karenanya dapat masuk di akal apabila hari ini, di kalangan Pemuda Persis ada sekelompok pemain calung yang menggabungkan potensi seni musik calung dan angklung yang mereka namai “Cumadar.” Peran dan kemampuannya pun tidak sekedar dinikmati di kalangan internal Persis, namun banyak pula tampil dalam undangan di berbagai hajat dan pagelaran pentas seni, baik di lokal daerah, mau pun manggung di luar daerah.

Bukan hanya calung, ada juga seniman lukis kenamaan kelahiran Ciawi, yaitu Kang Toyyib, serta tumbuh suburnya kelompok sastra dari kalangan Muda Persis Kabupaten Tasikmalaya semakin menunjukkan geliat dakwah  neo-seniman jam’iyyah di Kabupaten Tasikmalaya.

Dengan demikian, pelacakan sejarah singkat yang kami tempuh ini bukan dimaksudkan sekedar penguat wawasan soal kebolehan hukum musik di warga Persis yang diupayakan guna mengisi ruang dakwah tertentu. Lebih dari itu, bahwa perjalanan sejarah yang telah digoreskan oleh para tokoh terdahulu itu menunjukkan adanya kekayaan inovasi seruan dakwah dengan berbagai cara dari sekian sisi yang aneka rupa. Bagaimana pun, dalam kondisi tertentu, untuk sebagian orang tertentu, seni dan musik lebih dapat bisa menyentuh ketimbang petuah lisaniyah dan seruan mimbariah.

Apabila pada jamannya, alm. Ustadz Suraedi telah mempersembahkan mars dan hymne nasional yang menjadikan namanya kekal melintasi sejarah usianya sendiri, dan lalu para angkatan lama pun sudah menyuguhkan dakwah melalui seni dengan didirikannya grup band nasyid beraliran pop rock “Salsabila Voice”, maka apa yang hendaknya kita lanjutkan sebagai bentuk merawat kesinambungan nilai perjuangan Persis yang amat modernis itu?

Untuk menjawabnya, mari petik kembali gitar lama kita, kerahkan jiwa seni yang selama ini terpenjara dalam arah yang tidak tentu, ciptakan syair-syair terbaik yang dapat merayu orang untuk lebih dekat dengan Allah SWT, dan hadirkan juga karya cipta seni gugahan yang dapat membakar semangat mujahid pembaharu, agar terus meluap-luap, tegar dan membara.

Sekali lagi, sejarah sudah mengajarkan, betapa kekayaan pembendaharaan metode dakwah akan dapat mengekalkan nama para penyeru sebagai yang kita namai syuhada; pejuang yang keberadaannya selalu terasa. Bila mereka sudah menjejakkan jalan juangnya, kini bergilir jatah juang kita. Sebagaimana kita percaya, seni punya caranya sendiri yang khas dan menarik untuk merayu orang begitu setia dalam barisan; barisan perjuangan tentu saja.

Mari merawat warisan tradisi yang baik dengan cara yang terbaik. Merawat dakwah dengan seni terbaik, itu salah satunya. Demi apa? Tentu demi dakwah menjadi sesungguh-sungguhnya universum.  Mendalam kerangkanya, indah dipandangnya, nyeni kesannya, sehingga menyentuh ke dasar terdalam nurani manusianya. Mari…

(Tuan Andanu)

Dicatat dari gedung Kesenian Tasikmalaya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *