SAKUR NGIMPI

0
291

Tasikmalaya, hayatuna.net – Pagi ini adalah hari Sabtu. Kuawali bangun tidur jam 04.00 karena keseharian di pondok harus lebih awal bangun, sebelum pergi  ke masjid. Meski biasanya Pembina asrama sudah membangunkan kami dari jam 03.30. Sayapun pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudu. Kemudian ke masjid bersama teman-teman lainnya. Pagi yang dingin di kesunyian tempat kami mencari ilmu untuk masa depan gemilang.

Hari yang sangat sibuk, ya hari Sabtu. Biasa terjadi, ada saja buku paket yang tertinggal di asrama.  Atau bahkah bisa saja tugas kelas yang belum semuanya dikerjakan. Dimulai jam 07.00, sebelum masuk kelas masing-masing. Kami berkumpul untuk melaksanakan bai’at yang lansung dipimpin oleh pimpinan sekolah. Iqrar kesungguhan yang diucapkan seluruh peserta didik di hadapan para pendidik. Hari yang sangat luar biasa indah.

Waktu berjalan, dan kini sudah kita rasakan suasana yang sangat berbeda dari biasanya, khususnya untuk jejak rekam perjalanan program Pendidikan di semua jenjang kali ini. Bersamaan dengan terbitnya Keputusan Bersama empat kementerian dalam menentukan tahun ajaran baru yang telah diumumkan pada 15 Juli lalu. Keputusan tersebut telah memberikan beberapa informasi penting terkait kapan sekolah kembali dibuka, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi.

Semuanya terpusat pada isu utama yaitu pentingnya jaminan kesehatan peserta didik dan pendidik itu sendiri. Sampai ada yang keukeuh berpendapat bahwa wacana Kemendikbud membuka sekolah pada Juli atau Desember 2020 tidak tepat karena wabah corona belum diketahui kapan akan mereda. Karena menurutnya tidak ada yang bisa menjamin anak-anak bebas dari COVID-19 jika sekolah dibuka normal Juli mendatang.

Sama halnya yang terjadi pada rencana liburan sekolah kemarin. Saya dan teman-teman sekelas sudah merencanakan silaturahmi ke salah satu rumah guru sekolah kami. Tapi apalah daya keadaan tidak memungkinkan. Sebenarnya saya dan teman-teman merasa kecewa, tapi sudahlah lain waktu saja. Karena juga untuk memutus rantai wabah yang sedang melanda negeri ini.

Menurut informasi yang berkembang saat ini, banya pihak yang akan mengutamakan kebijakan kesehatan dan keselamatan guru, siswa dan orang tua dalam memutuskan pembukaan sekolah. Sebagian besar sekolah bakal tetap melakukan pembelajaran jarak jauh. Namun kepastian metode belajar tergantung perkembangan kondisi di masing-masing daerah.

Hari pertama tidak ada tugas. Setelah itu, satu per satu bapak ibu guru memberikan tugas. Sampai tugas pun menumpuk. Tugas tetap saya kerjakan. Kadang hati merasa jenuh, males, serta capek rasanya. Lebih membosankan daripada belajar di sekolah. Terlebih harus menggunakan alat komunikasi sebagai media pengirim pesan bahwa tugas sudah selesai dikerjakan bersama Orang tua.

Tugas sekolah satu demi satu saya kerjakan, satu tugas belum selesai sudah ada lagi tugas baru, tapi saya tetap semangat tidak boleh kendor dan mundur karena itu kunci keberhasilan. Dan semoga wabah penyakit yang sedang melanda cepat diangkat oleh Allah Swt sehingga dapat belajar di sekolah lagi dengan nyaman dan tenang.

Walhamdulillah, sayapun terbangun dari lelapnya tidur. Mungkin saking capeknya memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk meraih cita-citaku yang setinggi langit. Terimakasih mimpi indah yang sudah menemani malam indahku. Semoga esok hari lebih baik.

Ah, geningan sakur ngimpi (hanya mimpi). Mari songsong hari yang gemilang dengan bergegas menjalankan amanat Pendidikan bagi para guru yang selalu dinanti. Juga semua calon peserta didik, agar tetap semangat walau dalam kondisi apapun. Mungkin saja ada bonus nilai terindah di balik semua ujian ini. (IJ)

Irfan Jauhary

Penulis adalah Santri PPI 32 Ciawi Angkatan 1997 dan PPI 1 Pajagalan Bandung Angkatan 2000

LEAVE A REPLY