Resume Sharing Bersama Kang Wahid

0
4820

Tasikmalaya, hayatuna.net – Kehidupan terlalu misterius dan keterlaluan kaya untuk dilihat dari satu atau dua sudut pandang saja. Miskin pandangan tentang kehidupan akan menyebabkan cara pandang yang fakir, payah, dan terbelakang.

Dalam pergerakan, aktivis selalu menemui decakan kagum disebabkan sekian keajaiban di luar  rencana yang, mengherankan penuh kegembiraan.

Bagi pengusaha, kebiasannya adalah perhitungan matematika antara income dan outcome. Namun di luar perhitungan matematis dunia bisnis, mereka juga sering mendapati kejaiban rijki yang arahnya tidak diduga oleh rabaan akal dan kecerdikan hitungan.

Kejadian serupa juga menyinggahi politisi, sosialis, asatidzah, kaum miskin papa, mahasiswa, pekerja, dan sekian jenis profesi manusia lain-lainnya. Karena, seberapapun banyak kabilah, suku, bahasa, dan profesi manusia, kita tetap manusia: Makhluk yang diciptakan, artinya butuh Tuhan. Dan kita juga makhluk sosial, maka jangan egoistik teoritik, tetapi harus sosialistik aplikatif.

Maka, siapa kiranya yang mengatur kehidupan dengan sekian kekayaan cara menyambangi, dan kemahabesaran pola yang (sekilas) hampir tidak mungkin terjadi. Umpama gelitik tanya, pada saat dipertontonkannya rupa-rupa keajaiban tersebut, dimanakah jangkauan akal yang selalu dipuja-puja oleh dirinya sendiri. Bukankah yang maha memuji kelebihan dirinya ialah mahluk paling sombong dan tidak tahu diri? Semoga kita bukan tergolongkan orang berakal yang hanya dapat memuji akal kita sendiri dengan berlebihan, sehingga rabunlah pandangan kita terhadap yang menganugerahi akal, dan yang membuat akal lupa disaat kita harapkan untuk ingat.

Itu menunjukkan, Tuhan selalu ada dengan cara kerjanya yang maha asyik dan tidak dapat diatur-atur. Ia mengandungi segala yang tidak terjangkau akal, dimana matematika manusia hanya akan tunduk sama sekali: berislam.

Pada hari kedua syawal 1440 H, di kampung Sukamahi, Kab. Tasikmalaya, telah ditunaikan silaturahmi idul fitri bersama kang Wahid, eks. struktural Pimpinan Pusat Hima Persis yang hari ini _consern_ berjibaku dengan perjuangan bisnis konveksi. Beliau banyak membagi ilmunya soal konsentrasi keterampilan hidup. Jangan salah duduk, begitu kurang lebih simpulan di awal sharing.

Yang berjiwa bisnismen, hendaklah bergelut dengan penuh kecintaan. Yang intelektual, selayaknyalah memapankan kapasitasnya untuk terus menjadi rujukan bagi banyak orang. Begitu pula para aktivis, sepatutnya menjaga keaktivisan dengan sepenuh jiwa raga. Dan politisi, berjuanglah di lapangan politik dengan cerdik (bukan licik). Sebabnya, ialah dapat timbulnya marabaya ketika ruang intelektual digenggam oleh bisnismen, tentunya akan terjadi bisnis intelektual, dan atau intelektual digandrungi orang yang potensi dasarnya di politik, baranglah tentu akan terjadi banyak politisasi keilmuan. Bukan tidak boleh pebisnis dan politisi berintelektual, namun, ini soal dominasi dan spesialisasi yang “kudu” sadar tempat duduk.

Dari beliau, ada terungkap soal sejarah perjalanan hidup yang cukup perih dan pahit pada masa-masa silamnya. Dengan gaya yang khas, beliau memberikan kado pesan untuk selalu berani memastikan pilihan perjuangan. Sesekali, dengan mata menerawang, beliau menggambarkan adanya sebuah kehawatiran saat menyoal kawan sejawatnya yang telah masuk dunia politik, tetapi tak ubahnya bisnis jual beli: Meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jalan apapun, asalkan kaya.

Tentang kelompok intelektual, ada kehawatiran besar soal akhlak. Orang-orang banyak menggandrungi filsafat sosialisme diantaranya, tetapi kepekaan sosialnya sangat tipis sekali.

_”Saya lebih bangga terhadap orang yang kurang dalam wawasan sosiologinya namun berakhlak, daripada generasi kekinian yang khatam teori sosialisme, tetapi tidak menjejak dalam akhlak.”_ Ujar kang Wahid.

Selain cara pandang bisnis dan pembacaannya tentang dinamika aktivis hari ini, sharing ini turut membuka soal metodologi dakwah Jami’yyah yang menghajatkan kekayaan inovasi dan kreasi corak seruan. Secara muthlak, hal ini membukakan pintu seluas-luasnya bagi kaum muda untuk segera mengambil peran secara serius.

Disampaikannya bahwa terma pembaharuan, kemungkinan besar harus juga diperbaharui. Mestinya, pembaharuan bukan sekedar berkutat diwilayah objek, melainkan juga harus turut menyuguhkan pola pencapaiannya yang sangat variatif dan menyentuh. Bukankah sesuatu yang baik dan benar, tetapi disodorkan dengan cara yang kurang menyentuh, selalu cenderung mematahkan cita-cita perjuangan? Untuk itu, di era kekinian, kita butuh terhadap SDM muda yang tidak miskin strategi, yang memahami pemetaan gerakan, dan multi talent dalam mengelola ummat.

Demikian itu yang semestinya kita hadirkan demi terjawabnya dahaga ummat akan keindahan jam’iyyah. Bagi kang Wahid, kekayaan corak inilah yang harus secara segera dikaji serta diwujudkan bersama demi tegaknya keutuhan pembaharuan di usia jam’iyyah yang pada tahun 2023 akan tepat berusia satu abad.

Di sela diskusi jelang ahir, dengan penuh kebahagiaan beliau mengungkapkan bahwa sudah tiba waktunya, para pejuang muda (termasuk saya diantaranya, kata beliau) untuk berlekas menyempurnakan ibadah dengan sayap istri sholehah. Menikahlah. Niscaya kekayaan pola gerakan kita akan disempurnakan-Nya dengan kekayaan jiwa di rumah dan kekayaan materi dalam melengkapi perjuangan. Khusus bab ini, Subhaanallah

Kekayaan jiwa, kekayaan pola gerakan, kekayaan ilmu, dan kekayaan materi perjuangan, demikian itu yang harus kita miliki menuju keidealan dakwah jam’iyyah yang mapan. Bila berat dipikul seorang diri, maka itulah hakikat jam’iyyah dimana segala kebutuhan perjuangan akan saling melengkapi satu sama lainnya. Artinya juga, kekayaan-kekayaan inilah yang akan mengundang berkah, rijki, dan keajaiban perjuangan: Arah datangnya tidak diduga dan kegembiraan juangnya sangat terasa.

Untuk tidak lupa, di bagian ahir sharing, ada kesamaan cara pandang tentang diantara fungsi implisit pergerakan jam’iyah.  Ringkasnya, Jam’iyyah ada, pada pokok pertamanya adalah demi ringannya dakwah Islam yang amat berat jika dipikul hanya oleh perseorangan, dan bukan sebaliknya; jam’iyyah menjadi sebab bagi dakwah Islam yang justeru malah jadi berat diterima masyarakat. Kedua, Jam’iyyah ada untuk saling _ngareugreugkeun_ bukan silih _ngaragragkeun! Maka harus saling menyejukkan satu dengan lainnya, bukan malah saling membekukan sesamanya.

Maka, memperkaya diri dengan berbagai elemen kekayaan seperti ditulis diatas, itu teramat dibutuhkan adanya. Kekayaan-kekayaan diri ini, saat berkawin dengan yang lain, akan makin memudahkan jalan dakwah jam’iyyah kita yang kian mapan dan hebat lagi ke depannya. “Maju… maju… jangan pernah ragu. Semangat pembaharu.” (Cuplikan bait Mars Hima Persis)./Tuan Andanu

LEAVE A REPLY