Menyemai Kembali Semangat Gerakan Tajdid Kajian atas Hakikat, Konsep dan Aktualitasnya

0
5211

Narasi Pengantar: Menghadapi Proses Dalam Melakukan Perubahan

Tasikmalaya, hayatuna.net – Perubahan tercipta, tidaklah dapat kita bayangkan seperti sebuah tombol ajaib yang ketika kita tekan, secara otomatis-praktis dapat memberikan hal-hal yang kita inginkan dengan instan. Entah itu perubahan yang secara sengaja-terencana diarahkan pada kebaikan dan kemajuan, ataupun perubahan yang bergulir bersama kekacauan, kemudian sedikit demi sedikit mengantarkan pada kondisi yang menyentakkan kesadaran kita, bahwa ternyata kita tengah mengalami kejatuhan, kemunduran, keterbelakangan. Keduanya –perubahan ke arah yang positif ataupun yang negatif– sama-sama melalui proses yang sama sekali tidak instan.

Tidak ada seorang atau sekelompok orang pun yang mengharapkan terjadinya perubahan yang negatif (kecuali mereka para konspirator-konspirator yang cinta dengan kekacauan). Siapapun pasti mengharapkan kehidupan ini berjalan dengan baik dan bergerak ke arah yang lebih baik. Namun tidak banyak yang tahu dan memahami dengan pasti, seperti apa dan bagaimana kehidupan yang baik itu? Persoalannya kemudian yang akan muncul adalah kejahilan perilaku dalam menjalani kehidupan ini dikarenakan kebingungan serius yang ditimbulkan oleh kelalaian dalam mewujudkan kehidupan yang baik itu. Kejahilan perilaku tersebut kemudian akan mengganggu dan mengacaukan stabilitas tatanan kehidupan kolektif dan menghambat segala bentuk proses-proses kemajuan. Kebingungan yang serius yang dirasakan oleh seorang atau sekelompok orang tersebut, kemudian akan mendorong setiap mereka menjadi seorang yang individualistik karena pesimis terhadap proses mewujudkan cita-cita kehidupan yang lebih baik.

Ketika seorang telah menjadi individualis, ia hanya akan hidup dengan mengikuti apa yang menjadi keinginan dan kesenangannya semata. Ia akan selalu memandang sinis kepada mereka pelaku-pelaku perubahan yang memiliki cita-cita membawanya kepada kehidupan yang lebih baik. Jangankan bertahan dengan proses, orang seperti ini tidak akan pernah bisa sabar bertahan dengan lika-liku kehidupan bersama. Kecenderungan seperti ini sudah tentu bertolak belakang dengan cita-cita perubahan ke arah yang lebih baik. Bagaimanapun, cita-cita kehidupan yang baik itu menghendaki tatanan kehidupan bersama, yang dijalani bukan dengan kecenderungan atau kepentingan individu, tapi dibangun di atas kepentingan kelompok. Dengan demikian, adalah suatu yang mustahil melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dengan menjalani kehidupan ini berdasarkan kehendak dan keinginan pribadi saja.

Dari narasi tersebut, hal penting yang harus kita perhatikan adalah bahwa, kunci pertama untuk menghadapi proses perubahan adalah dengan bertahan dalam menjalani kehidupan bersama, atau dalam term yang biasa kita kenal, yaitu hidup berjama’ah. Bertahan dengan hidup berjama’ah berarti juga bertahan dengan identitas kelompoknya. Karena, dalam setiap kelompok, pasti memiliki identitas dan karakter khas yang membedakannya dengan kelompok lain. Baru ketika kondisi ini dapat tercapai, proses untuk menjalankan perubahan dapat dilakukan.

Perubahan negatif (kekacauan, kemunduran, keterbelakangan) terjadi ketika kita abai dengan realitas atau kenyataan. Kita membiarkan begitu saja kenyataan berjalan dengan sendirinya, tanpa tahu kemana realitas tersebut tengah menuju. Ciri seorang yang mengabaikan kenyataan dalam konteks ini adalah ketika seorang hidup dengan mengikuti kehendak dan keinginannya sendiri tanpa mempedulikan kehidupan sekitarnya. Lalu tanpa sadar, kenyataan dari hasil perubahan negatif tersebut telah menghancurkan dirinya sendiri.

Secara otomatis, bicara perubahan positif ke arah yang lebih baik dan maju, adalah bicara tentang sejauh mana kita mampu mengambil kendali atas realitas yang berkembang ke arah tujuan tertentu. Mengendalikan realitas atau kenyataan untuk di arahkan ke tujuan tertentu membutuhkan kemampuan membaca lingkungan sekitar, kepekaan yang tinggi terhadap gejala-gejala dan fenomena-fenomena yang berkembang di sekitar kita, menguraikan dan memetakan permasalahannya, lalu merancang rumusan alternatif jalan keluar dari permasalahan tersebut. Proses ini harus dijalani dengan konsisten dan berkelanjutan. Adalah suatu hal yang utopis dan khayalan belaka, ketika kita mengharapkan perubahan hanya pada keberhasilan dari penyelesaian satu persoalan saja. Karena kadangkala, ketika kita mampu menghadapi dan menyelesaikan satu persoalan, bisa saja kita belum melihat ada perubahan yang berarti yang terjadi. Maka, bagi mereka yang telah menyerah (dikarenakan gagal menyelesaikan masalah) dengan hanya satu persoalan saja, tidak ada peluang perubahan yang akan terjadi. Dan masalah akan kembali mengendalikan kenyataan.

Dalam upaya mewujudkan perubahan, untuk itu kita hanya perlu terus mengambil sebab-sebab terciptanya perubahan dalam bentuk upaya yang sungguh-sungguh dan terencana. Ikhtiar mengambil sebab, adalah diantara tanda keimanan dalam diri seorang. Dalam hal ini, ada suatu yang tidak boleh luput dari perhatian ketika kita hendak menghadapi proses dalam melakukan perubahan, yaitu terus menerus mengetuk pintu langit demi turunnya pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala. Dengan kita tetap melibatkan Nama-Nya dalam setiap langkah dalam ikhtiar melakukan perubahan, InsyaAllah cita-cita perubahan akan semakin dekat. Firman-Nya: ”Allah tidak akan merubah suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah diri mereka sendiri” [Al-Qur’an, Surat ar-Ra’du: 13].

Memahami Hakikat Tajdid

Islam sebagai risalah yang dibawa dan disebarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam kepada seluruh umat manusia, memiliki karakteristik yang sempurna, universal dan menembus batas waktu atau zaman. Dalil-dalil tersebut dapat kita temukan di banyak ayat dalam al-Qur’an yang menerangkan bahwa Allah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (Q.S an-Nahl:36, Yunus:47, al-Anbiya:45). Al-Qur’an mengabarkan bahwa semua risalah yang dibawa oleh para nabi sejak dahulu adalah agama Islam (Q.S ali Imron: 27).[1] Dengan demikian, Islam merupakan risalah yang dibawa oleh setiap utusan Allah subhanahuwata’ala kepada setiap umat, yang berarti sejak manusia diturunkan ke bumi, hingga kerasulan terakhir yaitu Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Sedangkan, apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, adalah untuk umat manusia hingga akhir zaman.

Namun, rentang waktu yang membentang antara kita dengan zaman kenabian selama kurang lebih 1400 tahun, telah menjadikan ajaran Islam mengalami pasang surut dalam penerapannya, bahkan terjadi distorsi pada ajaran-ajarannya. Belum lagi banyak persoalan-persoalan baru yang muncul dari konsekuensi menyebarnya Islam ke seluruh negri. Hal ini memungkinkan terjadinya kontak interaktif antara ajaran Islam dengan tradisi dan kebudayaan setempat yang menyebabkan keotentikan ajaran Islam menjadi tercemar.

Kita tidak dapat memungkiri pula, zaman yang hari ini kita hidup di dalamnya, berada pada pengaruh kuat kekuasaan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat. Di zaman ini, banyak manusia yang meninggalkan agama tak terkecuali agama Islam, karena menganggap bahwa ilmu pengetahuan lebih mampu menjawab persoalan kehidupan. Lantas mereka menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Umat Islam saat ini banyak yang menjadikan Islam sebagai agama ritual semata. Praktik keberagamaan dipersempit hanya pada ruang-ruang ibadah formal semata seperti sholat, zakat, puasa dan lain sebagainya. Kenyataannya dapat kita lihat ketika umat Islam menjalankan ibadah-ibadah seperti sholat dan sebagainya dengan mengikuti panduan Islam, tetapi di luar ibadah-ibadah tersebut seperti kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik tidak menyandarkannya kepada Islam. Padahal Allah subhanahuwata’ala  telah menjadikan Islam sebagai agama yang sempurna (Q.S al-Maidah:3) yang menuntut setiap Muslim untuk menjadikan Islam sebagai pedoman dalam segala aspek kehidupannya.

Tentu kondisi tersebut tidak sepatutnya kita biarkan seperti demikian. Perlu ada upaya untuk mengembalikan Islam sebagai agama petunjuk yang akan mengantarkan umat manusia menuju keselamatan di dunia dan di akhirat. Diantara upaya yang memiliki landasan epistemologis dari sumber ajaran Islam adalah dengan melakukan Tajdid atau pembaruan. Tajdid memiliki landasan yang jelas dan bersumber dari hadits nabi. Istilah tajdid berasal dari kata kerja mudhari yaitu yujaddidu[2],

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini di setiap seratus tahun mujaddid yang akan memperbaharui baginya agamanya”

Menurut Eka Hendry AR dalam bukunya Perkembangan Pemikiran Modern dalam Islam, ada beberapa pandangan yang muncul terkait istilah tajdid di sini. Pertama, ada yang memandang istilah tajdid di sini adalah upaya purifikasi atau memurnikan kembali ajaran Islam dari segala bentuk penyimpangan. Kedua, ada yang memandang bahwa tajdid adalah menghidupkan kembali ajaran Islam (revival), disebabkan banyak ajaran-ajaran dari Rasulullah dan para sahabat yang ditinggalkan di zaman sekarang.[3] Adalagi pandangan yang mengaitkan tajdid dengan arti pembaruan pada modernisasi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, sebagaimana dikutip oleh Abdul Quddus, kata modernisasi memiliki arti cara berfikir dan bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Sementara sebagai faham gerakan, istilah modern diartikan dengan gerakan yang bertujuan menafsirkan kembali doktrin-doktrin tradisional untuk disesuaikan dengan aliran-aliran filsafat,  sejarah dan ilmu pengetahuan.[4] Istilah tajdid sebagai modernisasi ini bisa diartikan dengan menyesuaikan ajaran dan nilai-nilai Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman. Namun bukan berarti menjadikan Islam sesuai dengan tren perkembangan zaman, tetapi membaca dan menafsirkan ulang doktrin dan nilai-nilai Islam dengan kondisi mutakhir.[5]

Dari penjelasan tersebut kita dapat mengambil tiga pandangan mengenai istilah tajdid. Pertama, sebagai purifikasi ajaran Islam. Kedua, sebagai upaya menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam. Ketiga, sebagai gerakan modernisasi. Dengan demikian kita dapat mendefenisikan gerakan pembaharuan Islam sebagai upaya menghidupkan kembali khazanah keislaman klasik, memurnikan ajaran dari segala bentuk pencemaran dan penyimpangan, menyelaraskan ajaran Islam dengan perkembangan zaman dan membebaskan orang-orang Islam dari satu dominasi paham atau pemikiran tertentu yang dianggap tidak lagi relevan dengan tuntutan perubahan zaman.[6] Yang penting dicatat dari tiga pandangan tersebut adalah bahwa gerakan tajdid bukan suatu upaya menghadirkan agama baru. Melainkan melakukan perbaikan dalam hal pemikiran dan praktik keberagamaan. Hanya saja, masing-masing dari pandangan tersebut memiliki aksentuase atau penekanan yang berbeda. Secara sederhana dapat kita ambil pengertian bahwa tajdid adalah upaya untuk mengembalikan Islam sebagai acuan dan pedoman yang menyeluruh bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.

Konsepsi Gerakan Tajdid

Secara etimologi, tajdid berasal dari Bahasa Arab “jaddada” yang artinya memperbaharuhi, dan “tajaddada al-syai”, artinya sesuatu itu menjadi baru. Sebagai contoh adalah kata-kata “jaddada al-wudûi”, artinya memperbaharuhi wudhu, dan “jaddada al-’ahda”, artinya memperbaharuhi janji. Dari sini, makna tajdid memberikan gambaran pada pikiran kita terkumpulnya tiga arti yang saling berkaitan dan tidak terpisah: 1) bahwa sesuatu yang diperbaharuhi itu telah ada permulaannya dan dikenal oleh orang banyak, 2) bahwa sesuatu itu telah berlalu beberapa waktu, kemudian usang dan rusak, dan 3) sesuatu itu telah dikembalikan kepada keadaan semula sebelum usang dan rusak.[7]

Kemudian, terkait dengan fokus dari gerakan pembaharuan, ada banyak aspek yang menjadi sasaran pembaharuan dalam Islam. Tentu hal yang mendasar adalah pemikiran keislamannya, ini yang menjadi fokus utama dan pertamanya. Karena sejatinya sumber primer dan sumber ajaran relatif konstan dan final seperti Al quran dan hadits nabi. Al-quran jelas sudah final, meminjam istilah Muhammad Arkoun ia merupakan corpus resmi tertutup (closed formal corpus) yaitu kitab suci yang terlah terstandar dengan baik (mushab Utsmani). Nashnya telah selesai (tsubut dilalah), kecuali penafsirannya yang terus menerus berkembang. Sedangkan hadits setelah wafat Rasulullah, tidak ada hadits lagi. Hadits-hadits yang telah dikodifikasi dan validasi oleh para perawi hadits menjadi warisan yang pada prinsipnya juga sudah selesai. Ruang perdebatan tentang kedudukan hadits terletak pada derajat keterpercayaan hadits itu, apakah benar berasal dari Rasulullah (rawi-nya) dan ketepatan kontennya (matan-nya). Jadi pada hakekatnya, keduanya sudah selesai pada konteks teksnya. Maka peluang pembaharuan dalam konteks ini sangat kecil, dan kalaupun masuk ini termasuk kategori yang vulnerable.

Dengan demikian, ranah yang sangat mungkin dilakukan pembaharuan adalah wilayah penafsiran terhadap teks-teks suci tersebut. Kemudian turun sedikit levelnya, adalah pembaharuan dalam konteks karya-karya para ulama atau ilmuwan yang menafsirkan teks-teks suci tersebut. Seperti pembacaan kritis terhadap tafsir Ibn Abbas, peran Abu Hurairah (sebagai orang yang paling banyak meriwayat hadits), pembacaan kritis terhadap tafsir al-Kasyaf dari Zamaksyari, Ibn Katsir, Al-Maraghi, Sayyid Qutb, Allamah Thabathabai dlsb. Kemudian objek lain dari pembaharuan adalah produk-produk ijtihadi dalam ranah fiqh yang merupakan salah satu “medan pembaharuan” yang sangat ramai dan juga kontroversial. Disamping itu pula, pembaharuan juga terjadi dalam ranah praktis, seperti ketika Islam diturunkan nilai-nilainya dalam konteks sosial, kebudayaan, ekonomi, politik dan kenegaraan.[8]/Rijal Jirananda

(Disampaikan pada kajian intensif PD Hima Persis Tasikmalaya Raya)



[1] Asep Dudi S, Misi Risalah Islam: Landasan Epistemologis Reformasi Sosial Menuju Masyarakat Madani, (Jurnal tanpa nama), hal. 88-86

[2] Fuady Anwar, Pembaruan dalam Islam, (Makalah: Fakultas Ilmu Pengetauah Sosial IKIP Padang, 1996) , hal. 4

[3] Eka Hendry AR, Perkembangan Pemikiran Modern  dalam Islam, (Pontianak: STAIN Pontianak Press, 2013), hal. 11-12

[4] Abdul Quddus, Perbandingan Pemikiran Islam: Teologi, Fiqh dan Tasawuf, (Mataram: Sanabil Creative, 2015), hal 1-2

[5] Eka Hendry AR, Perkembangan Pemikiran Modern  dalam Islam, (Pontianak: STAIN Pontianak Press, 2013), hal. 14

[6] Ibid., hal. 15

[7]  Bustami Muhammad Said, Pembaharu dan Pembaharuan dalam Islam, Terj. Mahsun al-Mundzir, (Gontor-Ponorogo: PSIA ISID, 1991), hal. 2-3

[8] Eka Hendry AR, Perkembangan Pemikiran Modern  dalam Islam, (Pontianak: STAIN Pontianak Press, 2013), hal. 15-16

LEAVE A REPLY