Mendulang Bonus Rowatib dan Pahala Wajib

0
5304

(Kajian Aplikatif Pembiasaan Dini Bagi Santri Dalam Menghafal Surat Pendek atau Juz ‘Amma)

Tasikmalaya, hayatuna.net – Sholat merupakan salah satu bentuk ibadah yang diwajibkan Allah Swt kepada seluruh ummat Islam. Seorang muslim yang mendirikan sholat dengan istiqamah, menjaga kekhusyu’an dan ikhlas untuk menyembah dan mengharap ridho-Nya akan merasakan betapa besar faidah dan fadhilah sholat baginya.

Sholat juga merupakan sebuah ibadah yang tata caranya sudah ditentukan dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah shalat sebagaimana kalian melihatku mendirikan shalat.” HR Bukhari

Sholat adalah ibadah yang mengandung ucapan-ucapan dan amalan-amalan yang khusus, dimulai dengan mengangungkan Allah Swt (takbir), diakhiri dengan salam (Fiqh Sunnah 1:78). Dalam Islam, sholat mempunyai kedudukan yang tinggi dibandingkan dengan ibadah lainnya. Sholat merupakan tiang agama, tidak akan berdiri Islam kecuali dengannya. Rasulullah Saw bersabda: Pokok urusan (agama) ini adalah Islam dan tiangnya adalah sholat (HR. Ath-Thabrani dari Mu’az)

Meski beriringan dengan berkembangnya waktu, kaifiyat sholat tidak bergeser dari kaifiyat yang seharusnya atau sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Terhubunganya sanad atau mata rantai dari qoul nabi (ucapan) yang diterima langsung oleh para Sahabat.

SHOLAT DI USIA DINI

Setiap orang tua atau sebut saja pendidik, harus memiliki keinginan untuk mewujudkan suasana yang kondusif. Dengan bahasa lain  adalah sakinah, semua membawa kenyamanan. Sehingga setiap anggota keluarga harus memiliki peran dan menjalankan amanah tersebut. Seorang kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik dalam mengemban tanggung jawabnya. Pun seorang pendidik harus memberikan teladan terbaik bagi anak-anak didiknya di lingkungan sekolah maupun di luar.

Tantangannya adalah bagaimana mendidik anak dengan cara yang baik, penuh kesabaran agar mereka mengenal dan mencintai khalq-Nya (pencipta), yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Kemudian mereka dikenalnya untuk mencintai Rasulullah Saw, dengan cara meneladani apa yang beliau sampaikan baik melalui ucapan dan perbuatan. Sehingga mereka mulai memahami Islam sejak dini.

Seorang Luqman yang memberikan nasihan kepada seorang puteranya, Allah Swt berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau memperskutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’” QS. Luqman: 13

Rasulullah Saw bersaba: “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).” HR. Abu Daud

POTENSI ANAK

Allah telah memberikan kelebihan kepada manusia pada masa kecilnya dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Oleh karena itu, orang tua harus pandai memanfaatkan kesempatan untuk mengajarkan anak-nya dengan hal-hal yang bermanfaat pada usia-usia balita. Usaha ini harus terus dijalankan, meskipun mungkin di sekitar tempat tinggal kita tidak ada sekolah semisal tahfizhul Quran. Kita dapat mengajarkannya di rumah kita, dengan kemampuan kita, karena pada dasarnya Al-Quran itu mudah.

Kesempatan luar biasa ini tentunya bakal membuahkan hasil yang cukup signifikan jika para orang tua atau pendidik dapat mengarahkan potensi tersebut ke jalur positif, bukan sekedar jalur prestasi semata.

Ajaklah anak untuk melakukan sholat bersama-sama dengan orang tua., atau ajaklah mereka untuk shalat bersama-sama di masjid. Dengan mengajaknya untuk shalat berjamaah di masjid, maka anak akan lebih bersemangat untuk melaksanakan shalat. Dengan begitu, hafalan Al-Quran senantiasa terjaga dengan cara yang mereka lakukan sendiri dengan membacakan surat-surat pendek dalam sholat.

POINT ROWATIB BAGI SANTRI

Adalah Rasulullah Saw, beliau senantiasa mengerjakan shalat rawatib sehari semalam sebanyak sepuluh raka’at yaitu: dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at setelah Zhuhur, dua raka’at setelah Maghrib, dua raka’at setelah Isya’ dan dua raka’at sebelum Shubuh, sebagaimana diriwayatakan oleh Bukhari-Muslim dalam kedua kitab shahihnya dari hadits Ibnu ‘Umar r.a.

Ada yang menarik untuk diikuti ketika Rasulullah Saw menggambarkan bahwa sholat sunnah ini mudah untuk kita teladani. Tercantum dalam hadits dari Aisyah r.a  bahwa Rasulullah Saw biasa melaksanakan shalat dua rakaat (yang ringan) di antara adzan dan iqamah shalat Shubuh. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita semua tahu, bahwa sebaik-baiknya amal adalah, sholat di awal waktu. Maka tidak salah ketika seseorang hadir di masjid setelah kumandang adzan dilantunkan, maka ada kesempatan baginya untuk melaksanakan sholat rowatib dua rakaat, atau disebutkan dalam matan hadits, yaitu sholat dua rokaat yang ringan.

Sholat rowatib inilah dapat menjadi lumbung amalan bagi seorang santri yang sudah membiasakan dirinya untuk hadir ke masjid tepat waktu. Sekaligus jadi bahan evaluasi santri untuk terus mengulang materi Al-Quran yang telah diterima di ruang kelas, untuk kemudian dipraktikan secara bertahap di lingkungan terdekat dari sekolah/madrasah, yaitu masjid.

Dari tiga puluh tujuh surat yang terdapat di juz 30 atau juz ‘amma, maka sebagian santri biasanya sudah ada yang mampu mengahafal surat-surat pendek tersebut dengan lancar. Hafalan surat pendek inilah yang kemudian bisa diulang terus dengan merutinkannya di dua rakaat rawatib sebelum dan setelah sholat wajib. Tidak sebatas mengulang surat pendek itu terus, atau yang terlalu sering diulang, sebut saja empat surat yang diawali dengan kalimat Qul. Surat Al-Ikhlas, An-Nass dan Al-Falaq dan Al Kafirun.

Meski dalam beberapa keterangan yang diterima Aisyah r.a, bahwa Rasulullah sering membaca pada qabla Subuh dan ba’da Magrib, sampai mengatakan: Keduanya adalah sebaik-baiknya surat (Al-Kafirun dan Al-Ikhlas). Semisal dalam pelaksanaan sholat dua rakaat di maqam Ibrahim, bagi mereka yang telah menyelesaikan thawaf qudum.

Wajibnya membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat sholat, karena dalam koridor sunnah adalah tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca di dalamnya surat Al-Fatihah. Dengan sendirinya, ketika bacaan surat tersebut diulang-ulang, maka memori seseorang akan menyimpannya dengan baik.

METODE RR (Rowatib Repeatation)

Bagi santri yang disiplin atau bisa menggunakan waktunya sebaik mungkin dengan membaca Al-Quran di luar jadwal sekolah, sangat mudah baginya untuk mempraktikan apa yang sudah dibaca, dihafalnya walaupun sedikit dari beberapa surat yang pendek.

  1. Sholat sunnah (qobla) Subuh, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas
  2. Sholat sunnah (qobla) Dzuhur, membaca surat Al-Falaq dan An-Nass
  3. Sholat sunnah (ba’da) Dzuhur, membaca surat Al-Lahab dan An-Nasr
  4. Sholat sunnah (ba’da) Maghrib, membaca surat Quraisy dan Al-Ma’uun
  5. Sholat sunnah (ba’da) Isya, membaca surat Al-Kautsar dan Al-‘Ashr

Masih ada beberapa surat pendek dengan maksimal jumlah 10 ayat dengan bacaan ayat pendek per ayatnya, seperti surat Al-Humazah (9 ayat), Al-Fiil (5 ayat), At-Takatsur (8 ayat) Az-Zalzalah (8 ayat), AL-Qadr (5 ayat), At-Thin (8 ayat), Al-Insyirah (8 ayat).

Dengan bacaan surat pendek tersebut, akan sangat membantu dalam menjaga hafalan surat-surat pendek yang dipraktekan dalam dua rakaat rowatib (bacaan yang ringan). Dengan cara mengulangnya dalam setiap kesempatan rowatib di jeda antara adzan dan iqomat atau di setelahnya.

Jika masih ada kesempatan lain, surat-surat pendek tersebut bisa dibaca dalam sholat sunnah lainnya, seperti tahiyyatul masjid, intidzar dan tahajud.

METODE WR (Wajib Repeatation)

Hal serupa bagi seorang santri yang ingin memaksimalkan dirinya dengan mendawamkan hafalan Al-Quran dengan cara menjaganya agar tidak mudah hilang, atau lupa begitu saja karena waktu dan lain sebagainya. Ada baiknya, mereka dituntut untuk disiplin atau mutqin dalam menjaga hafalan bacaan Al-Quran dengan cara langsung mempraktekannya dalam bacaan rakaat sholat. Telebih dalam sholat wajib yang lima waktu, bagi seorang santri yang sudah baligh mempunyai kewajiban mendirikan sholat.

  1. Sholat Subuh, membaca surat An-Naba (40 ayat) dan surat At-Takwir (29 ayat)
  2. Sholat Dzuhur, membaca surat Asy-Syams (15 ayat) dan surat Al-Bayyinah (8 ayat)
  3. Sholat Ashar, membaca surat Al-Lail (21 ayat) dan surat Ad-Dhuha (11 ayat)
  4. Sholat Maghrib, membaca surat Al-Fajr (30 ayat) dan surat Al-Balad (20 ayat)
  5. Sholat Isya, membaca surat Al-Ghosyiyah (26 ayat) dan surat Al-A’laa (19 ayat)

Masih ada beberapa surat lainnya dengan maksimal jumlah 20-40 ayat per satu suratnya, seperti surat Al-Insyiqaq (25 ayat), AL-Burj (22 ayat), Al-Muthaffifin (36 ayat), Abasa (42 ayat). Surat tersebut bisa dibaca dalam beberapa rakaat sholat wajib yang lima waktu. Dengan begitu, kesempatan yang Allah Swt berikan kepada kita untuk senantiasa berusaha khusyu’ dalam sholat bisa terpenuhi. Kita semua yakin, ibadah sholat bukan sekedar mengisi waktu lalu kembali beraktifitas seperti sedia kala. Seperti yang terjadi sekarang ini, waktu luang di rumah sangatlah terbuka lebar. Karena Pemerintah setempat berikut kebijakan sekolah/madrasah yang meliburkan siswa/santrinya untuk belajar di rumah. Namun ingat, ibadah sholat adalah amalan terbaik yang Allah berikan kepada ummat Nabi Muhammad Saw sebagai penutup risalah agama yang sangat sempurna, Al-Islam.

Sebagai penutup, bacalah apa yang menurut kamu mudah dari Al-Quran. Sajian tulisan singkat ini hanyalah pesan aplikatif bagi seorang santri yang ingin menghiasi dirinya dengan tilawah Al-Quran. Allah Swt telah menjamin bahwa Al-Quran adalah sangat mudah. Mudah dibaca, dan tentunya mudah diingat. Tapi kemudian kita sendirilah yang berusaha supaya ingatan itu terus menempel dan tentunya kita praktikan dalam kehidupan sehari-hari, dengan catatan kita semua selalu berusaha menghindar dari segala bentuk kemaksiatan.

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. HR. Muslim. InsyaAllah pendidikan tilawah berikut shalat yang diberikan orang tua atau pendidik akan tertanam pada diri santri., dari semua hal yang dilakukan dan dikatakan orang tua atau pendidik dengan suasana menyenangkan dan dilakukan secara istiqomah. Semoga kita termasuk hamba Allah yang bisa merutinkannya./IJ

Wallahu A’lam bi Ash-Showwab

LEAVE A REPLY