Gerhana Matahari Cincin

0
14215

Tasikmalaya, hayatuna.net – sering kita mendengar dua istilah sholat Khusuf dan Kusuf. Isitlah yang dimaksud adalah sholat dikarenakan terjadinya gerhana bulan, dinamakan sholat Khusuf. Sementara jika terjadi gerhana matahari maka yang kita lakukan adalah sholat Kusuf. Sholat gerhana ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika beliau berada di kota Madinah setelah hijrah.

Kusuf adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang, baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.

Khusuf adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang, baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.

Khusuf: Gerhana Bulan

Melihat hal tersebut, Rasulullah SAW kemudian melaksanakan shalat bersama para sahabatnya, yaitu shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau memperpanjang bacaan, ruku’ dan sujudnya. Lama bacaan beliau seperti sedang membaca surat Al Baqarah.

Setelah membaca surat, lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang panjang seperti berdiri. Setelah ruku’, (beliau tidak langsung sujud) namun melanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang yang lebih ringan dari yang pertama. Lalu setelah itu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lebih ringan dari yang pertama. Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud. Kemudian beliau berdiri dan melanjutkan raka’at kedua sama dengan cara pada raka’at pertama namun dengan tata cara yang lebih ringan. Kemudian setelah selesai raka’at kedua (seperti shalat lainnya), beliau salam. Gerhana pun selesai, lantas beliau pun memberikan nasehat atau lebih dikenal dengan khutbah pada para sahabatnya. Beliau memberi nasehat sesuai kondisi saat itu.

Merujuk pada Almanak Persatuan Islam 1441 H, Perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam sudah menyampaikan surat edaran pemberitahuan perihal akan terjadinya Gerhana Matahari Cincin pada hari Kamis, 26 Desember 2019 di seluruh wilayah Indonesia dengan rincian data sebagai berikut:

Gerhana Matahari Cincin (GHC) akan teramati di 7 (tujuh) provinsi, yaitu:

  1. Aceh (Singkil, Simeuleu)
  2. Sumatera Utara (Labuhan Batu Selatan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Padang Sidempuan, Sibolga)
  3. Riau (Bengkalis, Rokan Hulu, Siak, Kepulauan Meranti)
  4. Kepulauan Riau (Karimun, Bintan, Tanjungpinang, Batam)
  5. Kalimantan Barat (Benkayang, Kapuas Hulu, Landak, Pontianak, Singkawang)
  6. Kalimantan Timur (Berau)
  7. Kalimantan Utara (Tanjung Selor)

Untuk daerah Indonesia lainnya teramati Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Permukaan Matahari yang tertutup Bulan pada Gerhana ini antara 33,968 % s.d 94,117 %

Di wilayah Indonesia kontak-kontak Gerhana sebagai berikut:

  1. Kontak Awal Gerhana antara jam                 = 10:03:06 – 12:34:27 WIB
  2. Pertengahan Gerhana antara jam                 = 11:49:34 – 13:51:22 WIB
  3. Kontak Akhir Gerhana antara jam                = 13:48:56 – 15:00:07 WIB
  4. Durasi Gerhana antara 2 jam 16 menit 31 detik sampai 3 jam 51 menit 22 setik

Sehubungan dengan kejadian gerhana matahari (cincin dan sebagian) tersebut di atas, Pimpinan Pusat Persatuan Islam menganjurkan kepada seluruh jamaah dan simpatisan serta kaum muslimin untuk melaksanakan Sholat Gerhana pada waktunya. Untuk keseragaman pelaksanaan sholat gerhana dimaksud, untuk daerah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya diatur sebagai berikut:

  1. Mulai Takbir          : Pukul 11.00 WIB
  2. Sholat Gerhana      : Ba’da Sholat Dzuhur (dilanjutkan dengan khutbah kusuf, pengumpulan dan pembagian shodaqoh)
  3. Untuk daerah-daerah lainnya, pelaksanaan ibadah Gerhana Matahari agar disesuaikan dengan waktu gerhana di daerahnya masing-masing.

Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah SWT. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” HR. Muslim

Sholat Gerhana di Masjid Persis Panyusuhan, Ciawi

Dari petikan hadits tersebut, para ulama menjelaskan bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan./i_jauhary

Wallahu A’lam Bish-Showwab

LEAVE A REPLY