Disiplin Ilmu Sejarah Sains -Menemukan Jawaban (Bag.1)

0
188

Tasikmalaya, hayatuna.net – Sebelum pandemi COVID-19, kegiatan sekolah masih berjalan aktif, mungkin pada bulan Februari 2020 disatu hari saya belajar bahasa Inggris bersama teman-teman saya karena waktu itu adalah waktunya jam pelajaran bahasa Inggris dimulai, kami membahas berbagai macam kosa kata “vocabulary” dan bercengkrama bersama guru kami saat belajar, sampai ditengah candaan beliau mengatakan apa yang hati dan akal saya tolak.

Beliau mengatakan “kita ini anak IPA, anak yang menyukai kepastian (seperti kepastiaan si dia; candanya) , beda dengan anak IPS yang ada pelajaran Sejarah nya, cuma  menentukan apa yang tidak tentu (dikira-kira) seperti  ngapalin tahun dalam teks sejarah. Artinya anak IPS itu menyukai hal-hal yang tidak pasti, gak jelas dll (seperti nungguin kepastian si dia yang jelas nungguin,yaa jelas gak pasti) wkwk (semua tertawa) kecuali aku. Para teman²ku pun bersorak ria seolah setuju pada statemen guruku, tanpa mereka uji dahulu. Aku hanya tersenyum, dengan suara hati “ini tidak benar! ” Ditambah lagi aku mantan anak IPS. Pikiranku menyelinap ke pembahasan esensi sejarah yang ditulis oleh A. Hasan dalam bukunya A. Hasan Reformasi fikih di Indonesia.

Bahwa sejarah itu bukan menghapal siapa yang menang atau kalah bahkan bukan menghapal tahun, tapi sejarah adalah tempat belajar kemajuan ‘siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan’ serta mengadaptasi semangat untuk terus menatap kedepan, mengambil sikap bijak darinya dalam menghadapi permasalahan² dunia. termasuk (sains).

Bukankah sains juga bisa menjadi permasalahan dunia ketika ia belum lahir? semuanya menjadi sangat terbatas dan mustahil. Contoh saja video call, dulu itu mustahil. Sekarang itu hal yang biasa. Ini menunjukkan bahwa sains pun adalah ilmu yang lahir-dilahirkan. (Diciptakan-diadakan). Jelas, yang diciptakan, yang diadakan tentu ada kronologis keadaannya (sejarah nya). Jadi mungkin ada disiplin ilmu sejarah sains. “Pikirku waktu itu diruang kelas”.

Selang waktu 6 bulan lamanya, saya membaca buku Karangan Dr. Adian Husaini yang berjudul ” Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045″ Sampai di bab II Capita Selecta Pendidikan tentang pengajaran sejarah sains di Indonesia hal. 184- 193. Saya mendapatkan jawaban dari sangkaanku tentang adanya disiplin ilmu sejarah sains.

Dalam bukunya Dr. Adin menulis “_ seorang mahasiswa bernama Wido Supraha di UIKA Bogor berhasil meraih gelar Dr. di bidang Pendidikan Islam dengan sertifikat Judisium Cumalaude; mempertahankan disertasinya berjudul ‘ sejarah perkembangan sains menurut George Sarton dan aplikasinya dalam pengajaran sains di sekolah menengah atas”.

Disertasi Dr. Wido Supraha ini telah membongkar persoalan besar di Indonesia, dimana pengajaran sains di sekolah² umum dan universitas telah berlangsung sekian lama namun tidak pernah mengalami perbaikan secara signifikan dan mendasar, apalagi jika dikorelasikan dengan target besar Pendidikan Nasional. Pengajaran sains yang telah berjalan terlihat tidak mengaitkan sama sekali dengan kebesaran Allah SWT, dan menyembunyikan fakta² kunci dalam sejarah perkembangan ilmu sains.

Persoalan besar lainnya, pengajaran sains sangat berorientasi pada nilai akademik dan tidak menghidupkan ruh dan adab peserta didik untuk berpikir dan berkontribusi positif.

Pengajaran sains yang tidak Integratif dengan mata ajar sains lainnya, metode pengajaran dan pandangan hidup yang ter-Barat-kan menjadi pelengkap persoalan tersebut.

Untuk membuktikan pernyataannya, Dr. Wido Supraha meneliti beberapa buku panduan Pembelajaran Biologi untuk MA kelas X yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, yang ditetapkan sebagai buku Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digunakan sebagai bahan ajar. Pada buku ini ditemukan persoalan² besar yang sangat substansial.

Sedikit contoh yang bisa diambil, misalkan pada buku Biologi. Pada Sub-tema pembahasan “konsep-konsep tentang asal mulai kehidupan”, dibahas bahwa kehidupan asalnya dari lautan dan bahwa kehidupan asalnya dari udara. Pada Sub-tema pembahasan ” Teori asal usul kehidupan “, kembali diangkat  teori ‘abiogenesis’, yakni pernyataan Aristoteles bahwa makhluk hidup terjadi secara spontan, dan teori biogenesis, bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup lain yang tidak harus sejenis.

Dalam buku pelajaran, Fisika dikenalkan berasal dari bahasa Yunani berarti “alam”. Padahal terminologi fisis dalam bahasa Yunani merujuk kepada pengertian metode yang sistematis, bukan natural. Adapun terjemahan yang cocok bagi kata alam adalah ‘ thabi’ah’ dalam bahasa Arab, atau nature dalam bahasa Inggris. Fisika dikenalkan sebagai sesuatu yang telah berkembang di era Galileo dan Newton hanya karena teori yang telah disusun oleh Galileo tentang hukum benda yang jatuh, dan teori gerak yang disusun oleh Newton.

 Begitu juga ilmu kimia tidak diajarkan asal katanya sebagaimana fisika dibahas. Padahal jelas istilah ” Kimia ” adalah bahasa islam. Tokoh sekaliber Jabir Ibn Hayyan yang telah diakui sebagai Founding father dari kimia terapan, kimia yang tidak sekedar teori tanpa makna dari tokoh-tokoh Yunani seperti Democritus dan Aristoteles, tidak sedikit pun mendapat tempat pembahasan.  (Khamidinal dan Tri Wahyuningsih, Kimia SMA/MA kelas X, Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2009).

 Sebagaimana materi ajar sains lainnya, kalaupun dimunculkan tokoh-tokoh sains sebagai pelengkap materi, tokoh-tokoh yang dihadirkan sebatas terbatas pada tokoh-tokoh Barat mulai abadi ke-18 Masehi saja. Ketidak jujuran pandangan hidup Barat atas sumbangan Peradaban Islam yg begitu besar dalam sejarah perkembangan sains Barat, diakui oleh John M. Hobson. Bersambung…

Cindy Ristiana, Alumni PPI 32 Ciawi

LEAVE A REPLY