Bilakah Alumnus Persis Senang Sastra?

0
12058

Tasikmalaya, hayatuna.net – Kami tidak tahu kapan mulanya puisi hadir di belantara budaya. Sejak kemunculan bahasakah? Atau sejak ada langit yang dilukis dengan paduan seni fantastis, juga tidak tahu. Entah. Maka catatan ini, hanya mengungkapkan apa yang dapat dijangkau dan diterka oleh rabaan sederhana.

Tentang puisi (sebuah hasil karangan yang lebih dapat dimengerti hasilnya daripada definisinya), setelah didalami, karangan puisi (kedalamannya: Intrinsik) mesti mengandung sense, tipografi, wasiyat, tone, emosi jiwa, feeling dan enjambemen (Frase di ahir larik), imajinasi, dan diksi.

Selain itu, kedalaman puisi memerlukan estetisasi dengan penguatan akulirik, rima, verifikasi, majas, dan citraan. Estetisasi di sini bukan hanya mengandalkan kekuatan keindahan kalimat, namun harus mengandung unsur benar salah.

Coba perhitakan rangkaian informasi Allah Swt. berikut ini:

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat.” (Q.S. Assyu’ara: 224)

Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah? (QS. Assyu’ara: 225)

Bila melihat ayat 226 nya, tentu saja penyair disindir soal syair karangan yang tidak dibuktikan dalam prilaku; hanya karya indah yang tidak memberi atsar kemanfaatan.

Jika demikian, adakah tipologi penyair yang dikagumi oleh agama kita ini?

Itu, Diantaranya menunjukkan bahwa sastra bukan sekedar kumpulan kalimat dengan susunan indah setelah dipilih dengan apik, lalu berjejer manis berupa puisi. Bukan itu saja! lebih-lebih, sastra haruslah yang menjelma dalam sikap hidup. Lembut, menyentuh, menuntun pada jalan lurus, dan penuh kasih.

Sementara Lain sisinya, mari lihat ayat 227 di surat Assyu’aro.

“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal sholeh dan banyak menyebut nama Allah Swt. serta mendapat kemenangan sesudah menderita kedzaliman. Dan orang-orang dzalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”.

Unik. Begitulah penyair dikomentari kitab suci.

Noor, seorang sastrawan kawakan menyampaikan, keberhasilan sebuah karya sastra adalah ketika berjumpanya kebenaran dan religiusitas dalam keindahan.

Jika begitu, sudah patut karangan sastra kita tidak sama dengan sastrawan pada umumnya. Sastra kita harus mengandung rekreatif, edukatif, moralitas, religius, dan estetis.

Bahkan, antara abad 17 dan 18, pesantren menjadi tempat bersemayamnya para pujangga dan sastrawan yang menghasilkan pelbagai karya. Tampilnya pesantren sebagai kaukus tradisi kesusestraan, menunjukkan Pesantren telah mewujud sebagai lembaga kehidupan dan kebudayaan. Terlebih, jika pesantren sebagai lumbung lahirnya kader pecinta sastra, tentu dapat menjadikan sastra lebih bernilai dan berkualitas religiusus.

Sebagaimana sastra mengandung unsur kedalaman (intrinsik), ia juga berbalut raga yang dipengaruhi oleh luar (ekstrinsik), meliputi kondisi sosial, latar belakang kepribadian, dan unsur nilai.

Sastra pesantren, dengan penguatan diksi dari keilmuwan Islam, tentu dapat melahirkan sastrawan dengan nilai dakwah yang melekat dalam karangan karyanya. Pada dua dimensi inilah sastra santri menduduki tempatnya sendiri.

Islam, agama pengentasan kemusyrikan dari alam kejumudan, tentu memiliki peran dan fungsi mendalam dalam upaya pembersihan etika, estetika dan realitas sosial dari percampuran konservatisme dan modernisme yang bablas dari pagar-pagar nilai.

Mohammad Natsir, menyentili roman kesusestraan dalam tulisan kebudayaannya, betapa sama sekali tidak untuk membenarkan bahwa karya roman mesti merusak dan apalagi bertentangan dengan alam kebatinan serta keluhuran keimanan.

Dalam buku Mujahid Dakwah, KH. M. Isa Anshory menegaskan, himpunan ayat dalam al-qur’an dan sabda nabi, akan menjadi kalimat-kalimat mati, tidak berarti dan berisi, tiada ruh dan semangat, tiada daya cipta dan daya juang, jikalau ia jatuh ke tangan yang jumud, umat yang mati, beku dan membisu, pasif dan statis, tidak aktif dan positif.

Betapa dibutuhkan penafsir al-qur’an yang memenuhi unsur instrinsik dan ekstrinsik kandungannya. Hajat terhadap penafsir ini membutuhkan universalisme corak yang mewakili kemahabesaran Islam. Sastra, dalam hal ini, menjadi semacam ekspresi dakwah santri untuk menyentuh kalangan manusia yang (juga) menyenangi sastra.

Secara lebih privat, Persis memiliki beberapa tokoh yang berwawasan sastra dalam siloka khutbahnya, atau nyeni dalam tuturan dakwah kitabahnya.

Seorang legendaris, allohu yarham Ustadz Suraedi, yang dikenal masyarakat sebagai da’i multi talent karena menggabungkan pola mimbariah dengan seni, melalui putera kandungya, Ustadz Taimullah Assabiq menyampaikan, di Persis tidak ada satrawan dan seniman murni. Akan tetapi ketika para tokoh Persis berdakwah, mereka nyastra dan nyeni.

Jika mengulas lebih jauh ke belakang, tentu saja kita dapat memahami bahwa Persis memang bukan lembaga kebudayaan, melainkan ormas Islam yang konsen dalam dakwah. Maka upaya Islamisasi budaya, di samping dengan pendekatan eksklusif, juga menilik pentingnya estetisasi dakwah berupa kemasan kalimat yang tepat sasaran dan menyentuh.

Memasuki era Milenial yang baru gerbangnya ini, dengan kemajuan teknologi yang nyaris menjadikan media sebagai Tuhan dengan sumber rujukannya yang diyakini terbenar, seyogianya putera puteri pesantren Persis membekali diri dengan khazanah kesusestraan dan seni agar mampu berpirau di tengah badai tanpa menghentikan dayuhan tangan, sekali pun berjumpa dengan kelas masyarakat sastrawan, seniman dan budayawan. Bukankah untuk Islamisasi budaya meniscayakan pemahaman mendalam tentang kebudayaan?

Untuk itu, hamparan informasi yang berserakan di berbagai media, adalah referensi untuk dipilah sebagai bahan ramuan mengolah dakwah agar lebih memenuhi berbagai lini kehidupan kemanusiaan.

Memenuhi cita-cita perjuangan, diperlukan kecemerlangan befikir dengan wawasan strategi yang penerapannya akurat. Kemunculan istilah milenial yang menjadikan kawula muda berbaju kemodernan unik, telah memunculkan respon positif dari kalangan alumni Pesantren Persis. Berdirinya pesantren sastra dan madrasah pena di Bandung, serta hidupnya rekreasi sastra jenaka yang dihimpun dalam komunitas Semalam Sastra Jenaka (SESAJEN) di Tasikmalaya, nyaris kesemuanya merupakan refleksi positif atas penelaahan sejarah yang dikawinkan dengan realitas kekinian.

HB. Jassin, dalam sebuah wawancara majalah tempo soal persinggungan agama dan sastra, menyiratkan bahwa Agama tidak harus selalu dihadapkan dengan berlawanan. Tetapi saling mengisi ruang-ruang kosong masing-masing hingga mencapai derajat kesempurnaan sebagai manusia.

Di paragraf awal-awal, jelas ada ketidaksukaan Allah SWT. terhadap para penyair yang dianggap _majnun_ dari setiap kata-katanya yang dituntun oleh petuah syetan. Maka penguatan syair sastra jebolan Pesantren Persis haruslah tetap senjata estetis untuk memenangkan perang dengan pasukan syetan dari kalangan sastrawan. Sebab bila tidak demikian, sastra kembali sekedar buncahan ekspresi, gumpalan rekreasi tanpa aksiologi amal jariyah bagi bakti perjuangan jam’iyyah.

Dengan bahasa sederhana, menurut Tuan Andanu, sastra bagi kita harus merupakan estetisasi dakwah jam’iyyah yang menjunjung persatuan keindahan kalimat dengan kedalaman makna.

Seperti juga dikutip oleh Ustadz Romli, tentang pemikiran KH. M. Isa Anshory soal goresan tinta pena:

“Mengenai tulisan atau goresan pena seorang penulis dapat menjadi pelopor pemikiran, keyakinan, ide, cita-cita, dan bahkan sebuah revolusi. Tulisan atau pena seorang penulis akan cukup bicara satu kali, tetapi dapat melekat terus dalam hati dan akan menjadi buah tutur setiap hari.”

Dalam sejarah kesusetraan Islam di masa awal, kita mengenal tokoh orator dengan kedalaman sastra yang dikuasainya. Sebut saja Al-khansa’, Ka’ab Ibnu Huzair, Hasan Ibnu Tsabit, dan Abdullah Ibnu Rowahah.

Bilamanakah jadinya, bila di masa depan ada ribuan buku karangan generasi Persatuan Islam di rak-rak buku dan perpustakaan-perpustakaan putera-puteri bangsa kita, meliputi Novel, Sage, Fabel, Kartun, Legenda, Dongeng, Hikayat, Gurindam, Pantun, Syair, Puisi, Roman, Cerpen, Naskah Drama, Sejarah, dan Tulisan ilmiah, serta ragam macam jenis tulisan lainnya.

Setelah sajian “bukankah” itu, maka kata bukankahnya kita ganti dengan bukanlah. Bukanlah tidak ada kemustahilan kecuali menantang nyali ujicoba kita untuk memecahkan rahasia batas kemampuan maksimal kita.

Maka menulislah. Ijinkan bangsa Indonesia tercerahkan oleh sinaran matahari karangan kita. Menulislah dengan sastra. Perindahlah halaman rumah juang kita dengan estetika perjuangan.

Sebagai generasi baru, sesungguhnya kita dipilih sebagai angkatan penjadi bukan pencari. Jangan salah duduk! Kita tidak akan pesimis saat mencari keluasan para tokoh yang diharapkan, ternyata minim jumlahnya. Akan tetapi dengan lekas kita bergerak serentak untuk menjadi tokoh yang kita cari agar kelak tidak lagi ada kader yang putus asa karena pencariannya tidak membuahkan hasil.

“Kekosongan adalah persilahan.” Tuan Andanu

Dicatat di Sanggar Pembebasan, Kab. Tasikmalaya

LEAVE A REPLY