Ade Rijal; Lukisan dan Cinta Kasih

0
12889

Tasikmalaya, hayatuna.net – Dalam Wikipedia, seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Secara lebih terperinci, melukis merupakan kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.

Pada tahun 1960, Kampung Sukarasa, Desa Kurnia bakti, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya dianugerahi seorang anak laki-laki yang kelak di usia matang dikenal orang sebagai pelukis. Ia, satu diantara 5 bersaudara yang lahir dari sosok bapak yang begitu mencandui dunia lukis melukis, bapak Tanu.

Bapak Tanu tidak pernah merasa dirinya pelukis. Ia begitu enggan menyebut hobinya yang banyak menelurkan buah lukisan hebat itu sebagai pelukis. Dengan rendah hati, ia selalu meyatakan bahwa ia tidak dan bukan pelukis. Sangat sering ia mengatakan kegemarannya tersebut hanya merupakan luapan dari satu diantara orang yang senang melukis. Sebatas itu saja, katanya dengan santai.

Bapak Tanu memiliki 5 putera yang kesemuanya mewarisi kecintaan serupa. Anak-anaknya terbiasa berakrab dengan kanvas, kertas, papan, dan cat warna. Ekspresi dari kolaborasi imajinasi dan pandangan realitas inderawi selalu begitu memesona ketika mereka memindahkannya pada kertas, papan kayu, dan tembok dinding. Siapa pun memandanginya, pastilah jatuh hati. Maka tak heran, para pemesannya selalu dibikin gembira atas hasil lukisan buah jari bapak Tanu sekeluarga di dinding-dinding rumah mereka. Selain lukisan kertas dan hiasan dinding rumah, fasilitas publik pun menjadi satu diantara medium keluarga penyenang lukis ini dalam mencurahkan ekspresi seninya.

Pada tahun 2015, di usia 98 tahun bapak Tanu kembali keharibaan Allah Swt.. Setelah kewafatannya, putera-puteri almarhum bapak Tanu  tidak memadamkan warisan lukis melukis. Di tempat berbeda-beda, mereka mengembangkan seni lukis dengan citarasa serta corak masing-masing yang khas.

Salahsatu puteranya yang merawat seni lukis adalah Ade Rijal Jaya Nanggala. Ia dilahirkan di Sukarasa, Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya pada hari selasa, 28 Juni  1960. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan khusus seni rupa (; lukis), namun ibarat pribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, maka dapat dikatakan, bakat melukis pada dirinya yang begitu melekat, besar dimungkinkan sebagai warisan dari bapak Tanu, alm.

Di alam lukis, sebut saja Ade Rijal, persis prinsip bapaknya, sama sekali tidak pernah mengamini ketika hasil lukisannya dikomentari orang sebagai buah karya seniman lukis. Oleh karenanya, Ia tidak begitu menggeluti seni lukis sebagai profesi, melainkan sebagai saluran ekspresi hobi yang menyembul dari dorongan kecintaan hati.

Kini, memasuki ahir tahun 2018, umur Ade Rijal mendekati 60 tahun. Bila menilik pada masa silam, yaitu pada 17 Januari 1983, di usia 23 tahun ia menikahi gadis bernama Wiwin Wiarsih, kelahiran Karanganyar. Meski mendapati asam garam kehidupan yang pahit dan manisnya sangat menguji, namun ia tidak pernah sedikitpun terbesit niyat mematikan kecintaannya terhadap dunia lukis melukis.

Ade Rijal sangat menikmati sela-sela waktu istirahat malam untuk mengalirkan bakat lukisnya. Maka tidak mengherankan manakala banyak hasil lukisannya yang terabadikan di dinding-dnding tembok sekeliling rumahnya dan atau diabadikan orang-orang dalam bentuk lukisan dinding atau relief bernilai tinggi. Di samping kreasi lukis dinding dan relief, dirinya juga pandai menghias taman-taman yang semula biasa menjadi sangat mengesankan.

Dari hasil pernikahannya bersama Wiwin, Ade Rijal dianugerahi 10 putera-puteri. Dan dari kesepuluh anaknya tersebut, bakat melukisnya terwariskan  pada si bungsu Arsan Taka yang masih duduk di kelas 4 MI Al-Burhan, Karanganyar. Menurut tuturan salahsatu puteri kandungnya, Ade Rijal merupakan sosok inspiratif yang mengagumkan bagi anak-anaknya.

Deyanti, puteri kandung Ade Rijal menyampaikan bahwa bapaknya memiliki prinsip kepedulian yang melekat tinggi. Ia memandang bapaknya bukan saja sebagai sosok pelukis yang banyak mendecakkan kagum, melainkan sangat dirasakan sebagai teman bermain, pemimpin panutan, sahabat curhat, dan atau ketiganya sekaligus. Bahkan di beberapa kondisi tertentu, bapak dapat menjelma sebagai sosok guru yang sangat memahami psikologi para siswanya.

“Bapak selalu menyampaikan bahwa dalam hidup, anak-anaknya harus memiliki ilmu padat, amal hebat, dan pembina umat. Bahkan dengan penuh semangat, bapak juga sering mengajari kami agar berani menatap masa depan dengan penuh tanggung jawab.” Papar Deyanti.

Keluarga Ade Rijal tinggal di kampung Karanganyar 3, RT/RW-002/007, Desa Cipondok, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa barat. Ade Rijal mengakui bahwa kegemarannya menarikan jari-jemari saat melukis sudah dilakukannya sejak masih duduk di kelas 3 sekolah dasar (SD). Ade Rijal yang semula berdomisili di Ciawi, kemudian memutuskan untuk menetap di Kampung Karanganyar, tepatnya di tahun -83 ketika menikahi gadis pujaan hatinya dan secara sah berganti status dari yang semula bujang menjadi suami.

Dari sekian banyak karya lukis Ade rijal, dua diantaranya bisa dinikmati di hiasan dinding dinding RA Al-istiqomah Karanganyar dan RA Persis Situbuleud. Selain itu, buah karya lainnya yang berbentuk hiasan dinding dapat dinikmati di dinding-dinding kamar serta rumah, baik rumahnya maupun rumah warga yang, tentu saja jumlahnya lebih banyak. Adapun karya seni lainnya yang berupa relief, hiasan taman-taman serta kreasi tebing-tebing, sudah dapat dinikmati di beberapa tempat sekitaran desa tempat ia tinggal.

Selain gemar melukis, Ade Rijal juga senang mengolah halaman rumahnya dengan berbagai tanaman hias serta aneka rupa kreasi seni alam yang kreatif dan memesonakan mata setiap orang. Tema yang ia ambil beraneka macam. Suatu waktu bernuansa natural dan modern, dan suatu waktu yang lain, memadukan kreasi bercorak klasik dan kekinian dengan menghadirkan panoramik dunia hewan atau nuansa alam berupa air terjun mini, bebatuan, atau kolam-kolam hias.

Menghabiskan bakti di sisa usianya, Ade Rijal yang merupakan warga jam’iyyah PERSIS. Sekarang ini lebih memilih memerankan kediriannya sebagai sosok panutan keluarga. Ia dekat dengan kesemua anaknya dan begitu perhatian kepada istri dan anak-anaknya. Bukan sekali dua kali, lukisan dinding di setiap ruangan rumahnya merupakan lukisan dari icon gambar dan tema yang sangat disenangi putera-puterinya. Bagi Ade Rijal, lukisan-lukisan tersebut merupakan persembahan jiwanya. Pada masing-masing gambar tersebut, secara sungguh-sungguh serta penuh penghayatan, ia alirkan cinta kasihnya untuk istri dan seluruh anak-anaknya.

“Bilasaja ada putera bapak yang tersenyum saat memandangi sebuah gambar di buku, atau ketika puteri bapak begitu senang saat menonton tema gambar di salahsatu stasiun TV, Bapak pasti kadokan kesenangan mereka berupa lukisan di dinding-dinding rumah. Itu cara bapak menunjukkan sayang dan perhatian untuk mereka. Makannya bapak selalu yakin bahwa bapak bukan murni pelukis, melainkan orang yang sangat senang melukis. Karena bagi bapak, melukis adalah bakti jiwa untuk orang-orang yang bapak sayangi.” Jelas Ade Rijal.

Ade Rijal merupakan sosok langka yang perlu diambil ilmunya oleh generasi muda. Ia menggunakan jiwa seninya, di samping luapan dari aliran cinta kasih, juga sebagai nilai tinggi dari sosok pemimpin yang penting memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan oleh putera-puteri kandungnya secara khusus dan oleh masyarakat secara lebih umum. Beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu melestarikan bakat yang dianugerahkan Allah Swt.. Bila merawatnya dengan tulus dan sungguh-sungguh, kita tidak usah ragu dan rendah diri meski pun secara linear kependidikan kita tidak pernah secara langsung menggelutinya. Namun, bakat memiliki jalannya sendiri yang selalu mengejutkan bagi para penjaganya. Maka, menggali serta mengungkapkannya ke muka dunia adalah kewajiban kedirian kita sebagai manusia.

Petikan pelajaran lainnya yang penting diambil adalah tentang potensi masyarakat kampung. Dengan prestasi lukisan Ade Rijal, tentu kehadirannya benar-benar berhasil menepis sangkaan beberapa kalangan bahwa hasil orang kampung selalu pasti kampungan. Karya-karyanya yang bernilai seni tinggi telah berhasil menembus pandangan-pandangan kurang baik soal keterbelakangan kreatifitas orang kampung. Apalagi kampung dengan kenaturalan alamnya yang masih asri, tentu saja menyuguhkan banyak gugahan yang inspiratif bagi siapa saja yang menghidupkan jiwa seni, serta siap sedia mengambil langkah yang tangkas dan berani.

_”Bila Tuhan sangat pandai mencipta dan melukis dengan sempurna, semoga pelukis dari kalangan manusia adalah diantara tetes anugerah kemahahebatan kreasi-Nya demi membuktikan bahwa manusia adalah bukti kreasi dari kreator sang maha dimaha.”_

Dicatat dari balik do’a sembunyi untuk kesembuhan ibunda Ires Iyan yang tengah berjuang melawan kanker ganas (Semoga Allah Swt. lekas menyehatkannya kembali. Aamien. /Tuan Andanu

LEAVE A REPLY