SMA Plus Mu’allimin 182; Sukses Selenggarakan Munaqosyah KTI

0
4487

Tasikmalaya, Hayatuna.net – Karya Tulis Ilmiah (KTI) adalah standar kurikulum Pesantren Persatuan Islam dan salah satu syarat untuk mengikuti ujian pesantren. Pelaksanaan KTI di berbagai Pesantren Persatuan Islam umumnya berbeda-beda, khususnya di SMA Plus Muallimin Pesantren Persatuan Islam 182 Rajapolah, Kab. Tasikmalaya

Sidang Dihadiri Oleh Wali Santri

Pada awal bulan September 2019 di selenggarakan secara serempak pembuatan KTI oleh angkatan 14 SMUSIM (Ashabul Yamin). Dan ini adalah pelaksanaan KTI yang ke-14 kalinya di SMUSIM.

Penyusunan KTI ini diawali dengan pengajuan judul oleh peserta, kemudian dipertimbangkan oleh panitia KTI tahun ini yang diketuai oleh Ustadz Rifqy Yuhana S.Pd, apakah judul yang di ajukan oleh para peserta layak atau tidak untuk dilanjutkan ke tahap penyusunan sampai hari Munaqosyah (sidang). Adapun faktor diterima dan ditolaknya judul KTI dari peserta antara lain:

  1. Bobot bahasan (sesuai atau tidaknya dengan pengetahuan peserta)
  2. Judul yang sudah diajukan pada tahun sebelumnya, tidak akan diterima kecuali setelah jangka waktu yang sudah cukup lama (kurang lebih 4 tahun ke belakang)
Ustadz Saefudin Sedang Menguji Santri

Selama pembuatan KTI peserta di bagi menjadi beberapa kelompok. Dalam satu kelompok dibimbing oleh seorang pembimbing. Peran pembimbing dalam pembuatan KTI ini sangatlah penting. Setelah wawancara salah seorang pembimbing dan juga merupakan ketua pelaksana Ustadz Rifqy Yunaha S.Pd “Seringkali yang minta bimbingan itu malam pembimbing, peserta hanya menunggu panggilan pembimbing untuk dibimbing.” Ujarnya.

Ustadz Mahmudin bersama Ustadz Rifqi

Setelah satu bulan proses pembuatan KTI, pada hari Senin – Rabu 7 – 9 Oktober 2019 dilaksanakannya Munaqosyah (sidang). Sidang tahun ini sedikit mengalami perubahan dari sidang tahun-tahun sebelumnya. Yang menjadi perubahan nya antara lain: tahun sebelumnya ruang sidang hanya 3 dan jumalah penguji dalam setiap ruangan diisi oleh 3 orang penguji. Berbeda dengan sekarang, ruang sidang menjadi 4 ruangan dan per ruangan diisi oleh 2 penguji. Salah satu faktornya adalah jumlah santri angkatan Ashabul Yamin yang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Suasana Sidang Hari Terakhir

Dalam KTI ini, karya peserta tidak hanya berupa tulisan biasa (paper), melainkan harus mencatumkan dalil utama yaitu Al-Quran dan Sunnah. Untuk tahun ini dalam sisi penulisan setiap peserta KTI diharuskan mencantumkan dalil dalam karyanya. Ini bertujuan agar santri bisa berfikir secara ilmiah dan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Sekaligus untuk menguji Ilmu Alat (Tashrif, Nawhu dan Irob) peserta.

Karya tulis para peserta yang sudah di uji belum tentu sempurna, banyak di antara peserta yang karya tulisnya perlu direvisi sesuai dengan usul penguji. Peserta yang karya tulisnya tidak perlu direvisi dalam artian sempurna menurut kacamata penguji adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Pengujian Ilmu Alat Disertakan Dalam Sidang

Jadi, perbedaan pelaksanaan KTI dari tahun ke tahun bukan semata-mata hanya pembeda saja, melainkan suatu usaha dari para panitia pelaksana KTI untuk lebih baik kedepannya.

Semoga program ini dapat memberikan pengalaman berharha kepada peserta atau santri, sebagai persiapan dasar sebelum mereka terjun langsung menghadapi sekaligus membina masyarakat yang lebih luas./AF/IJ

LEAVE A REPLY