Seni dan Musik

0
3552

Tasikmalaya, hayatuna.net – Islam adalah agama fitrah yang tidak bertentangan dengan naluri manusiawi, namun tetap teratur dan terukur dengan syariat. Seni, yang mengandung unsur keindahan senada dengan naluri manusia yang condong dan senang akan keindahan. Hal tersebut merupakan satu dari banyaknya pengejawantahan keindahan Sang Pencipta Yang Maha Indah serta menggemari keindahan.

Maka,  panorama seni terakbar adalah alam semesta dan harmoninya serta kalimat dan lantunan terindah dalam seni teragung adalah Al-Qur’an sebagai karya agung yang ada di alam semesta. Keduanya menjadi titik acuan insan, yang juga ejawantah keindahan penciptaan untuk melahirkan estetika.

Seni, dalam hal ini musik, mengundang berbagai pandangan para ulama sehingga ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Hal ini tidak terlepas dari ikhtiyat dan ijtihad yang bersumber pada dalil. Diantara Ulama yang mengharamkan musik adalah Al-Albani, Ibnul Qayim Al-Jauzy, Asy-Syaukani dan Imam Qurthubi.

Diantara sumber yang menjadi rujukan diharamkannya musik adalah Q.S Lukman

Dan diantara manusia (ada) orang yang menggunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah…” (Q.S. Lukman : 6), dan Al-Isra ayat 64 : “dan perdayakanlah siapa saja diantara mereka yang engkau (iblis) sanggup dengan suaramu.

Pendapat yang mengharamkan musik, berpandangan bahwa ayat tersebut berbicara tentang musik, karena lagu atau musik adalah sesuatu yang sia-sia, syair yang dapat memperdaya dan melenakan.

Serta hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari : “Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan alat musik.” (HR. Bukhari)

Adapun Ulama yang membolehkan seni musik diantaranya adalah Al-Ghazali, Imam Malik, Imam Zafar, Yusuf Qardhawy. Dalam ihya ulumuddin, Imam Ghazali menyampaikan mafhum mukhalafah dari ayat “sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.”

Menurutnya, boleh mendengarkan suara-suara yang baik untuk didengarkan, termasuk musik di dalamnya.

Ketika Rasulullah saw hijrah dr Makah ke Madinah, orang-orang Madinah menyambutnya dengan tabuhan musik dan nyanyian, Rasulullah saw  tidak melarang dan memberhentikan mereka. Hal ini juga menjadi dalil bagi ulama yang membolehkan musik. Kemudian dalam salah satu riwayat ketika terjadi pernikahan antara seorang wanita dengan laki-laki Anshar, Rasulullah bertanya pada Aisyah tentang musik : “Hai Aisyah, tidak adakah padamu hiburan? karena kaum Anshar senang dengan nyanyian.” (HR.Bukhari)

Adapun hadits yang disampaikan oleh Rubaiy binti Muawwiz yang diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majjah: “Rubayyi berkata bahwa Rasulullah saw datang ke pesta pernikahnnya. Lalu Nabi saw duduk di atas tikar. Tak lama kemudian beberapa orang jariah (budak wanita) segera memukul rebana sambil memuj-muji (menyenandungkan) orangtuanya yang syahid di perang Badar. tiba-tiba salah seorang dari jariah berkata : “diantara kita ini ada Nabi saw yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada esok hari.” Tetapi Rasulullah saw segera bersabda ” “tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.

DR. Abdurrahman Al-Bagdadi berpendapat bahwa boleh mendengarkan dan mendendangkan musik, lagu ataupun nyanyian, karena tdk ada nash yang secara jelas dan tegas mengharamkamnya. Kemudian Ibnul Arabi pun berpendapat sama, bahwa tidak ada dalil yang menyatakan dengan jelas keharaman musik. Adapun surat Luqman itu berkaitan dengan orang-orang kafir yang menjadikan Qur’an sebagai bahan gurauan.

Adapula Ulama yang berpendapat bahwa musik yang dibolehkan hanya sebatas duff (rebana) dan musik dalam pernikahan. Sebagaimana dalam riwayat hijrahnya Rasul saw dan kehadiran beliau dalam pesta pernikahan yang memperbolehkan didendangkannya musik.

Adapun terkait hadits bukhari : “akan ada diantara umatku yang mengfhalalkan zina,sutra, khamr dan alat musik ..” menurut Imam Ghazali hal tersebut merupakan penekana terhadap orang yang berlebihan dalam memainkan musik. Imam Ibnu Hazm-pun menyatakan bahwa musik itu mubah (boleh).

Para Imam yang membolehkan musik memberi catatan bahwa musik dibolehkan selama tidak ada unsur-unsur keharaman di dalamnya, seperti pemujaan terhadap benda, mempercampurkan dengan khamr dan lain sebagainya. Namun musik dibolehkan selama digunakan sebagai media untuk memperkuat semangat juang dan jihad, yang syairnya menunjukkan keluhuran ilmu. Pendapat ini disampaikan juga oleh Abdurrahaman Albagdadi.

Maka dari itu, musikpun bisa digunakan sebagai sarana dakwah. Bahkan musik telah dikembangkan pada masa Khilafah Umayah dan Abasiyah. Imam Ghazali sendiri berpandangan bahwa musik dapat menimbulkan keadaan khusyu tertentu. Bahkan bagi kalangan sufi, musik menjadi suatu hal yang urgen untuk melahirkan ekstase. Dengan demikian, sesungguhnya ada peluang dakwah melalui irama seni. Sebagaimana dituturkan oleh Allahu yarham ustadz Suraedi, tokoh ‘ulama sekaligus musisi Persis, musik adalah perayu atau perangkul, dan kandungan dakwahnya bertumpu pada konten atau lirik. Disanalah kita memasukan pesan-pesan dakwah Islam. /Z3 – Wallahu a’lam bish Shawwab

Oleh : Tim Revmekel Tasikmalaya Raya

LEAVE A REPLY