MU’ANAQOH

0
6532

Bandung, hayatuna.net – Akhir-akhir ini berjabat tangan dengan cara sambil merangkul, bahkan beradu pipi antara laki-laki dengan laki-laki sudah tidak mengherankan lagi. Namun dalam ajaran Islam, semuanya sudah diatur. Karena Islam agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Asasnya adalah aqidah yang benar, bagunannya adalah amal shalih berlandas dalil Al-Quran dan As-Sunnah dan hiasannya adalah akhlak yang mulia. Sebuah pondasi tidak akan bernilai tinggi, jika tidak ada bangunan di atasnya.

Menurut Ibnu Mandzur, Mu’anaqoh berasal dari ‘anaqo – yu’aniqu – mu’anaqotan wa inaqon – yang artinya saling mendekatkan leher antara dua orang yang bertemu (Kitab kamus Lisanul Arob juz 10 hal 271). “Seseorang memeluknya dengan pelukan sehingga pundak seseorang lebih rendah dari pundak yang dipeluknya.” Dikatakan juga dalam Mu’jam Lugoh Al-Fuqoha (Kamus bahasa ahli fiqih, hlm. 438): “Dibaca dhommah mim dari kalimat ‘anaqo yaitu ketika seseorang menempatkan dagunya di bahu orang lain, sementara kedua leher bersatu yang dibarengi pelukan dan rangkulan tangan.

Sementara Syekh Utsaimin berpendapat bahwa Mu’anaqah adalah bertemunya dua pundak, yaitu diambil dari kalimat dasar “al-Unuqo”. Dengan kata lain dua pundak bertemu dengan cara menyilang satu sama lain.

Etika Muslim Jika Bertemu

Ketika kita bertemu, lalu berjabat tangan atau lebih dikenal dengan istilah salaman, itu adalah suatu hal yang baik. Begitu pula ketika bertemu di kantor, rumah, masjid dan dimana saja. Itu adalah termasuk amalan baik. Jauh dari kebiasaan tersebut, alangkah lebih indahnya jika kita mengetahui faedah dari bersalaman sesama muslim. Nabi bersabda:

عنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah Saw bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” H.R. Abu Dawud

Atau lebih tegasnya dengan mengucapkan salam dan membalasnya apabila bertemu dengan saudara lainnya. Rasulullah Saw bersabda, “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam: Jika kamu bertemu dengannya kamu mengucapkan salam…” HR. Muslim 5778.

Ucapan salam ini dapat mengokohkan rasa cinta antara sesama muslim. Rasulullah Saw bersabda, “Sebarkanlah salam di antara kalian, niscaya kalian saling mencintai.” HR. Al-Hakim IV/167:168

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لِيُسَلِّمْ اَلصَّغِيرُ عَلَى اَلْكَبِيرِ, وَالْمَارُّ عَلَى اَلْقَاعِدِ, وَالْقَلِيلُ عَلَى اَلْكَثِيرِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: وَالرَّاكِبُ عَلَى اَلْمَاشِي

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Hendaklah salam itu diucapkan yang muda kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Dan yang menaiki kendaraan kepada yang berjalan.”

Mu’anaqah sambil Mendo’akan

Berpelukan (mu’anaqah) dan jabat tangan (mushafahah) antar sesama jenis (bukan lawan jenis) tergolong kebiasaan baru bagi masyarakat Mekkah-Madinah yang tidak dikenal semasa pra-Islam.

Secara umum berpelukan dan berjabatan tangan merupakan arus baru budaya Arab Islam. Mungkin saja jika al-Quran tidak menekan agar pengikut Nabi Muhammad melakukan jabat tangan, mereka tidak akan menerima arus baru kebudayaan itu. Rasulullah Saw dengan kebijaksanaannya menerima dan menyebarluaskan cara menyambut orang lain dengan salam, memeluk, dan berjabatan tangan yang tentunya berdasar contoh yang dilakukan Rasullah Saw.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي يَزِيدَ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ الدَّوْسِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ لَا يُكَلِّمُنِي وَلَا أُكَلِّمُهُ حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ فَجَلَسَ بِفِنَاءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَقَالَ أَثَمَّ لُكَعُ أَثَمَّ لُكَعُ فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تُلْبِسُهُ سِخَابًا أَوْ تُغَسِّلُهُ فَجَاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ وَقَالَ اللَّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ. قَالَ سُفْيَانُ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنِي أَنَّهُ رَأَى نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ أَوْتَرَ بِرَكْعَةٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ubaidullah bin Abu Yazid dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari Abu Hurairah Ad-Dawsiy berkata: Nabi Saw keluar pada waktu siang hari dan Beliau tidak berbicara kepadaku dan akupun juga tidak berbicara kepada Beliau hingga sampai di pasar Bani Qainuqa’. (Setelah keluar dari pasar) maka Beliau duduk di halaman rumah Fathimah lalu berkata: “Mana anak kecil itu. Mana anak kecil itu? (maksudnya Hasan bin ‘Ali) “. Rupanya Fathimah yang menahan anak kecil itu karena suatu keperluan, seingatku Fathimah memasangkan ikat leher yang sering dipakainya atau memandikannya, lalu Beliau datang dengan tergesa hingga Beliau bentangkan tangannya untuk memeluk dan menciumnya, lalu Beliau berdoa: Ya Allah, cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya”. Telah berkata, Sufyan berkata, ‘Ubaidullah telah mengabarkan kepada saya bahwa dia memandang Nafi’ bin Jubair membolehkan witir dengan satu raka’at saja”. HR. Bukhari No. 1979

Sedangkan mu’anaqoh menurut Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar hukumnya sunah bagi orang yang baru pulang dari perjalanan (safar) yang jauh, seperti pulang haji, atau ketika bertemu anak kecil, atau bagi dua orang yang bertemu setelah lama berpisah.

Penutup, apabila mu’anaqoh dengan saling berpelukan dilakukan oleh dua orang yang berbeda jenis, lelaki dan perempuan yang tidak ada hubungan kemahroman, jelas tidak dibenarkan. Apabila dilakukan oleh suami dan istri atau lelaki dan perempuan yang memiliki kemahromam maka dibolehkan. Sebagaimana antara lelaki dan lelaki, seperti yang telah dijelaskan di atas. Semoga bermanfaat ! (iJ)

LEAVE A REPLY