Mengenal Rasm Usmani versus Pentashihan Mushaf Standar Indonesia (Bag. 1)

0
4614

Bandung, hayatuna.net – Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) telah melaksanaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al-Quran Indonesia pada hari Kamis, 27 September 2018 di Jakarta, dan menghasilkan kesepakatan untuk memperbaiki tulisan Al-Quran sebanyak 186 kata akan dilakukan perubahan penulisannya.

Perubahan yang dilakukan ini sesuai dengan panutan Mushaf Standar Indonesia. Dimana dalam penulisan Al-Quran, Indonesia berkiblat pada mushaf atau kaidah rasm Utsmani. Bahkan Ia pun menjamin, meskipun terjadi perubahan hal ini tidak akan memengaruhi pemaknaan dan kebenaran dari tulisan yang ada. Pungkas mantan Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Bapak Ahsin Sakho Muhammad.

Sebagai contoh dari hasil pentashihan mushaf tercantum dalam surat Al-Hijr hal. 265 ayat 61 yaitu dalam kalima “Luuthin” yang bertanwin (munsharif) menurut mushaf Al-Quran rasm Usmani dengan riwayat Hafs, kemudian ditashih menjadi “Luuthi-nil” tanpa tanwin tapi dengan diberikan harokat kasroh lalu ditambahkan huruf nun kecil, dengan argument supaya memudahkan warga Muslim Indonesia dalam membaca Al-Quran. Tutur LPMQ

Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengenal apa itu rasm Usmani mulai dari sejarahnya permulaannya hingga pengukuhannya sekarang dalam penulisan Mushaf Al-Quran. Berikut kami lampirkan sedikit pengantar tentang tematik Ulum Al-Quran dalam mengenal rasm Usmani karena masih banyak catatan pentashihan yang dilakukan LPMQ terhadap mushaf Al-Quran, sebagaimana terdapat dalam mushaf Al-Quran yang diterbitkan oleh Kementrian Agama RI khususnya.

Penulisan Al-Quran

Al-Quran diturunkan secara bertahap. Setiap kali ada ayat turun, Rasulullah SAW segera menyampaikannya kepada umat Islam dan memerintahkan para sahabat untuk menulisnya. Diantara para sahabat nabi, ada yang langsung menghafalkannya, dan ada pula yang hanya menulis lalu menghafalkannya di kemudian hari. Rasulullah menuntun penulisan Al-Quran berdasarkan apa yang diajarkan malaikat Jibril kepada beliau.

Ketika Rasulullah wafat, Al-Quran tidak terkumpul semuanya seperti mushaf yang sekarang, melainkan tersimpan di dalam dada para sahabat, tertulis di atas batu, pelepah-pelepah kurma, maupun tertulis diatas kulit-kulit binatang peliharaan seperti unta, kambing, dan lain sebagainya.

Ketika Abu Bakar, khalifah pertama, memberantas orang-orang murtad dan pendukung Musailamah sang nabi palsu dalam perang Yamamah, banyak dari para penghafal Al-Quran yang gugur sebagai syahid, hingga Abu Bakar khawatir dengan nasib Al-Quran apabila lenyap dari permukaan bumi ini.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Umar bin Khattab adalah sahabat yang mempunyai banyak keistimewaan. Dalam masalah ini, beliau menyarankan supaya segera dilakukan pengumpulan Al-Quran yang terpisah-pisah naskahnya untuk dijadikan satu mushaf. Meskipun terjadi banyak pertentangan, akhirnya saran Umar ini diterima oleh Abu Bakar.

Dengan segera Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit, seorang pemuda yang cerdas, untuk menulis Al-Quran dan membukukannya. Dengan pembukuan Al-Quran ini, sempurnalah apa yang terkandung dalam firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

Sesunggunya kami telah menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya kami senantiasa menjaganya“.

Al-Quran yang telah dikumpulkan tersebut disimpan di kediaman Abu Bakar, lalu beliau menyerahkannya kepada Hafshah binti Umar. Mushaf Abu Bakar ini adalah mushaf Al-Quran yang memasukkan 7 bacaan, sesuai dengan riwayat shahih tentang bacaan al-Quran.

Pada saat Utsman bin Affan RA menjadi khalifah, beliau melihat banyaknya perbedaan dalam bacaan dan penulisan Al-Quran, yang disebabkan karena tersebarnya para qari’ di berbagai kota, hingga menimbulkan bacaan Al-Quran dengan bermacam-macam dialek. Kemudian beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hasyim untuk menulis kembali Al-Quran yang berada di kediaman Hafshah.

Mushaf ini diperbanyak lagi dan dikirim ke beberapa kota besar di wilayah kekuasaan Islam untuk digunakan sebagai rujukan naskah Al-Quran yang otentik. Mushaf ini terkenal dengan sebutan Mushaf Utsmani atau Rasm Utsmani. Peristiwa ini terjadi pada tahun 25 Hijriyah. Bersambung (IJ)

LEAVE A REPLY