Liburan Sekolah; Jadikan Ibumu Sebagai Raja (Studi Analisa Faktor Motivasi Anak Terhadap Nilai Kesuksesan)

0
8057

Bandung, hayatuna,net – Liburan sekolah, atau lebih spesifik semisal liburan musim panas di negara lain lebih dikarenakan perubahan cuaca ekstrim. Sebut saja di negara berkembang seperti Inggris, liburan sekolah bisa mencapai 5-6 minggu, atau selama musim panas berlangsung.

Tapi sebagian penduduk desa di negara dengan empat cuaca tersebut menjalani masa liburan sekolah di musim semi dan musim gugur. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, mereka anak-anak yang sedang berlibur dapat membantu orang tuanya bercocok tanam, memanen di ladang pada musim tersebut.

Tapi juga ada pendapat lain yang mengatakan bahwa bahwa anak-anak harus mendapatkan libur musim panas karena kegiatan berpikir dengan otak yang terus digunakan bisa membuat otak lelah. Atau mungkin suasana kelas tidak akan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar.

Bagi anak-anak yang tinggal di belahan bumi lain, sebut saja bagian negara beriklim tropis dengan curah hujan yang cukup. Masa liburan tidak dirasakan begitu panjang seperti negara dengan empat musim tadi. Masa liburan hanya berkisar 1-2 minggu saja seperti yang sekarang berlangsung, yaitu Liburan Akhir Semester.

Berkaitan dengan fase liburan bagi anak-anak sekolah ini, tentunya ada hal penting untuk dijadikan momentum berharga demi perkembangan motivasi anak, khususnya di belahan bumi tercinta Nusantara Indonesia. Karena setiap tahunya, Pemerintah Republik Indonesia membuat dan membagikan kalender pendidikan sebagai acuan kegiatan belajar mengajar. Kalender akademik ini mengatur berbagai hal terkait kegiatan siswa, mulai dari minggu belajar efektif, jadwal pembagian rapor hingga jadwal libur siswa.

Nikmat Waktu Luang

Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Dari Abu Hurairah RA dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.” HR. Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548

Allah SWT telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 18:“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits menggambarkan: “Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi SAW bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” HR. Bukhari, No: 5933

Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, atau kemudian menua.

Betapa tidak, jika kesempatan yang orang tua berikan kepada anak-anak untuk pergi bersekolah atau menetap di asrama (pondok pesantren), lalu ia tidak gunakan kesempatan berharga itu untuk mendulang pahala kebaikan dengan baik seperti mengikuti segala tata tertib sekolah, menghormati guru, atau ia habiskan untuk kegiatan-kegiatan positif selama di asrama. Maka ketahuilah, sesuatu yang terus berputar, tidak akan pernah kembali lagi.

Ingat, ada hal yang membuat seorang ibu (orang tua) menjadi sangat istimewa. Begitu besar pengorbangan seorang ibu. Sampai Rasulullah SAW menjawab tiga kali ketika ada sahabat yang bertanya “kepada siapa aku harus berbakti?” Kebaikan seorang ibu sangatlah luas dan tak pernah dapat tergantikan dengan apapun. Seberapa banyak harta kekayaanmu, tak akan pernah bisa lunas untuk membayar kebaikan ibu. Maka, buatlah beliau tersenyum bahagia.

Membuat ibumu tersenyum saat kamu pulang ke rumah, terlebih sekarang kamu akan lebih lama tinggal bersama ibumu di rumah karena sedang liburan. Maka perintah agama, bahagiakan ibumu merupaka sesuatu yang akan menolongmu dari kerugian, jika waktu luangmu kamu sia-siakan begitu saja. Buatlah ibumu tertawa bahagia, sebagaimana engkau telah membuatnya menangis.

Hiraukan saja hari Ibu yang hanya 1 hari. Ini kesempatan yang sangat luar biasa diberikan oleh pihak sekolah/pesantren kepada kamu untuk menetap lebih lama dengan orang tuamu. Lebih sering berkomunikasi, lebih terbuka dalam memaparkan masalah yang sedang kamu hadapi. Tapi bukan sebaliknya, waktu luangmu saat liburan berlangsung. Kamu lebih enjoy atau lebih memikirkan orang lain yang orang tersebut belum tentu memikirkan nasib baikmu.

Karena ibumu…..

Dia selalu mendo’akanmu

Kamu kenyang dalam keadaan dia lapar.

Kamu puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Kamu tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Nilai Kesuksesan Hakiki

Liburan sekolah tiba. Seperti biasa anak-anak menggunakan waktu luangnya yang luas itu dengan cara yang beragam. Ada yang berlibur ke luar kota atau bahkan ke luar negri dengan keluarga, ada juga yang hanya menghabiskan waktu dengan teman, ada yang berkunjung ke rumah kerabat dan sebagainya. Tapi diantara mereka semua, ada juga anak yang hanya di rumah, menikmati ketenangan waktu luang yang diberikan bersama kedua orang tua tercinta.

Hari demi hari berlalu. Bosan memang rasa nya lama-lama. Sebelum banyak berpikir kembali dengan jadwal sekolah/pesantren, mungkin memang sebaiknya anak berusaha melakukan sesuatu yang berharga hingga mereka berdua menuangkan cawan yang berisi keridhoan kepada kita, terlepas dari catatan raport yang sudah mereka terima dari pihak sekolah.

Seorang anak sangat berpeluang besar menjadi orang sukses kala ia menjalani alur kependidikan dengan semangat, kerja keras atau tekun. Hingga memperoleh nilai yang luar biasa dari pihak sekolah atau sering disebut siswa berprestasi dengan rangking pertama (cumlaude).

Catatan luar biasa ini, Allah jua hadirkan bagi mereka yang ingin mendapatkan keridhoan dalam pandangan Allah SWT dengan syarat mereka harus bisa meraih keridhoan dari orangtunya sendiri. Dikatakan dalam sebuah hadits riwayat Hakim dan Thabrani:” Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”

Bisa diambil kesimpulan bahwa seorang anak wajib berusaha membuat orang tuanya ridha. Dalam hadits tersebut, Rasulullah menyebutkan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Sama halnya dengan mencari ridha Allah yang merupakan suatu kewajiban, demikian pula dengan mencari ridha orang tua. Banyak orang yang bersungguh-sungguh untuk mencapai keridhoan Allah, justru Allah enggan untuk meridhoinya, meskipun ibadahnya banyak, karena dia menelantarkan orang tua, dan orang tua tidak ridho kepadanya.

Contohnya adalah Uwais al-Qorni. dia adalah seorang yang berbakti kepada ibunya, sehingga Allah mengistimewakannya dengan kemuliaan dan pengabulan doa. Bahkan Rasulullah SAW memerintahkan sahabat umar untuk meminta doa pengampunan kepadanya. Semoga Allah memberi kita kemuliaan dengan memberi kesempatan dan petunjuk kepada kita untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Motivasi belajar merupakan proses yang memberi semangat, arah, ketekunan dalam aktivitas belajar. Motivasi seorang anak akan baik, apabila tujuan dalam diri seorang anak itu, baik. Pada konteks belajar maka tujuan dari dalam diri siswa yaitu untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi dan semangat untuk mengikuti aktivitas belajar.

Liburan sekolah ini, sejatinya menjadi motivasi yang lahir dari lingkungan.  Seorang siswa dapat melihat atau mengamati orang lain yang dapat memberikan inspirasi bagi hidupnya termasuk dari orang tuanya sendiri, sehingga siswa tertantang untuk dapat melakukan proses belajar yang lebih baik.

Janganlah kita melupakan begitu saja waktu luang yang diberikan,  lupa dengan kondisi dan kemampuan diri sehingga melupakan arti sesungguhnya dari Kesuksesan. Mari kita kembali bercermin, sudah seberapa sering keridhoan orang tua telah mengantarkan kita kepada kebaikan dan kesuksesan hidup kita serta keberkahan dari Allah SWT./i-jauhary

Semoga bermanfaat Wallahu A’lam Bish-Showwab

LEAVE A REPLY