LENGKAPI SHAUM ‘ASYURA dengan TASU’A

0
6586

Tasikmalaya – hayatuna.net, Pada tahun ini, hari Asyura atau tanggal 10 Muharram jatuh pada Selasa, 10 September 2019. Sehari sebelumnya, atau tanggal 9 Muharram (9 September 2019), umat Islam juga dianjurkan menjalankan puasa Tasu`a.

Tasu’a berarti hari ke 9 (Sembilan) pada bulan Muharram, sedang Asyura adalah hari ke 10 (sepuluh) pada bulan Muharram. Bulan Muharram sendiri adalah bulan pertama dalam penanggalan kalender hijriah atau hitungan penanggalan berdasarkan peredaran bulan.

Sistem Penanggalan Hijriah

Pada penanggalan Islam pergantian bulan barunya adalah berdasarkan pada penampakan hilal (bulan baru), yaitu bulan sabit terkecil yang dapat diamati dengan mata telanjang. Hal ini tidak lain disebabkan penanggalan Islam adalah penanggalan yang murni berdasarkan pada siklus sinodis bulan dalam sistem penanggalannya (lunar calendar), yaitu siklus dua fase bulan yang sama secara berurutan.

Satu bulan dalam sistem penanggalan Islam terdiri antara 29 dan 30 hari, sesuai dengan rata-rata siklus fase sinodis Bulan 29,53 hari. Satu tahun dalam kalender Islam adalah 12 x siklus sinodis bulan, yaitu 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik. Itulah sebabnya kalender Islam lebih pendek sekitar sebelas hari dibandingkan dengan kalender masehi dan kalender lainnya yang berdasarkan pada pergerakan semu tahunan matahari (solar calendar).

Karena ini pula bulan-bulan dalam sistem penanggalan Islam tidak selalu datang pada musim yang sama. Selain itu, dalam jangka waktu satu tahun masehi bisa terjadi dua tahun baru hijriah. Contohnya seperti yang terjadi pada tahun 1943, dua tahun baru hijriah jatuh pada tanggal 8 Januari 1943 dan 28 Desember 1943.

Penjelasan Mufassir Tentang 4 (empat) Bulan Haram

Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” QS. At Taubah: 36

Ibnu Abbas ra menafsirkan ayat di atas,

في كلهن، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما، وعظم حرماتهن، وجعل الذنب فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم.

Janganlah kalian menganiaya diri kalian) dalam seluruh bulan. Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar. Demikian pula, Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar pulaTafsir Ibnu Katsir: 3/26

Adapun Qotadah menafsirkan ayat di atas,

فإن الظلم في الأشهر الحرم أعظم خطيئةً ووِزْرًا، من الظلم فيما سواها, وإن كان الظلم على كل حال عظيمًا، ولكن الله يعظِّم من أمره ما شاء.

Karena kezhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dari pada kezhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya. Walaupun zhalim dalam setiap keadaan itu (pada hakekatnya) perkara yang besar (terlarang), akan tetapi Allah menetapkan besarnya sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.”

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya – pen). 3 bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram, (dan yang terakhir –pen) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Sya’ban.” HR. Al Bukhari

Munasabat Pemberian Nama

Munasabah atau bisa disebut mendekati (menyerupai) atau dengan kata lain mengungkap keterikatan antara dua hal, bisa jadi sebab akibat atau lainnya. Kemungkinan akan terungkap dari rangkaian yang terjadi dan bersifat khusus.

Seperti halnya munasabat pemberian nama tahun Gajah pada tahun kelahiran Muhammad Saw. Hal ini berdasarkan pada kisah tentang seorang raja yang bernama Abrahah dan balatentaranya dari Yaman yang mencoba masuk Kabah dengan target menghancurkan Kabah. Dan peristiwa itu terjadi sekitar 571 masehi, yaitu bertepatan dengan tahun kelahiran Muhammad.

Juga ketika Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah berusia sekitar 50 tahun.

Rasulullah Saw amat terpukul. Apalagi hari kematian Khadijah tidak berselang lama dari kematian paman kesayangan Nabi, Abu Thalib. Oleh karena itu, masa-masa ini disebut sebagai tahun Berkabung (‘aamul Huzni) bagi Nabi Muhammad SAW.

Hijrah Pada Bulan Muharam?

Para ahli tarikh (sejarah) semuanya bersepakat bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram (awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M).

Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syeikh Al-Mubarakfury mengatakan bahwa Muhammad SAW. meninggalkan kediamannya di Mekkah ke kediaman Abu Bakar saat hari gelap atau malam hari, yakni pada tanggal 27 Shafar. Dari kediaman Abu Bakar, Rasulullah SAW. bersama Abu Bakar meninggalkan Mekkah ke tempat yang berlawanan dengan Madinah, menuju Gua Tsaur untuk tujuan sembunyi. Nabi Muhammad SAW. sempat menginap di dalamnya selama tiga malam, yakni malam Jumat, Sabtu serta Ahad.

Bersama Abu Bakar dan Abdullah bin Uraiqith serta orang kafir penunjuk jalan, Rasulullah Saw. memulai perjalanan ke Madinah lewat jalan yang tak lumrah.

Senin 8 Rabiul Awwal (23 Sept 622M) Rasulullah SAW. tiba di Quba, sekian kilometer sebelum masuk kota Madinah pada masa itu. Di Quba ini Rasulullah Saw sempat menginap dari hari Senin, Selasa, Rabu hingga Kamis. Rasulullah Saw bergerak menuju Madinah pada hari Jumat, tepatnya tanggal 11 Rabiul Awwal.

Jika demikian, apa landasan munasabat 1 Muharram jika kita melihat peristiwa tersebut dari beberapa aspek. Apakah dilihat dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Karena jika ingin memperingati hijrah nabi, waktunya seharusnya antara 27 Shafar hingga 12 Rabiul Awwal. Ataukah sebatas memperingati tahun dimana kita mengenal penanggalan sistem Hijriah yang menjadi tonggak besar dalam sejarah Islam.

Padahal Islam sudah lama berkibar namanya di bumi Allah sebelum nabi Muhammad diturunkan oleh Allah Swt. Dan kita tidak patut untuk membeda satukan antara satu nabi dengan nabi yang lainnya. Allah Swt berfirman:

قُولُوۤاْ آمَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِىَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya.” Q.S. Al-Baqarah:136

Bahkan disebutkan dalam keterangan lain menurut pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa Rasulullah memang berhijrah pada Rabiul Awwal, namun semangatnya sudah muncul sejak Muharram. Jika memang demikian yang terjadi maka lebih cocok hanya dengan penyebutan Tahun Hijrah yang terjadi pada tahun 622 Masehi, bukan perayaan atau peringatan tepat di bulannya. Seperti halnya kita menyebut tahun 571 Masehi sebagai tahun kelahiran Muhammad. Karena sistem penanggalan Hijriah resmi dipakai ketika Umar bin Khattab RA menjabat sebagai khalifah selama dua tahun.

Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 15 Juli 622 Masehi, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622 Masehi.

Memperingati atau menjadi Pengingat

Umat Islam memiliki sistem penanggalan Hijriah yang salah satu fungsinya adalah untuk patokan pengingat ibadah. Kalender ini disusun berdasarkan sistem peredaran bulan. Ini karena Umar, dengan persetujuan para sahabat, menetapkan peristiwa hijrah Rasulullah Muhammad Saw dari Mekah ke Yatsrib (sekarang Madinah) sebagai tahun pertama. Bukan saat Rasulullah lahir atau diangkat sebagai nabi.

Dari semangat Umar lah seharusnya menjadi tolak ukur kita sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw dalam menerjemahkan apa yang sudah dilakukan para sahabat Nabi. Karena yang dimaksud dari hal tersebut adalah untuk penentuan tanggal /kalender dan kesepakatan untuk menyatukan aturan dengan mengetahui hari dan peristiwa dan membenarkan waktunya kapan dilakukan, semisal dalam hal akad, pengutusan dll.

Dalam arti yang umum, agama Islam ini sudah dikenal masyarakat maka tidak membutuhkan perhatian bahwa hal itu tidak terjadi sebelumnya. Bahkan Islam adalah agama yang telah Allah ridhai untuk para hamba-Nya, dan telah mengutus para Nabi dan Rasul-Nya sebelum Nabi Muhammad. Atau kita tidak serta merta melupakakan dengan meniadakan tahun-tahun dakwah yang dilewati oleh Nabi Muhammad Saw dan orang-orang yang bersama beliau di Makkah sebelum hijrah. Yang lebih sering disebut JASMERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.

Melengkapi Shaum Asyura dengan Tasu’a

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra berkata, “Rasulullah Saw melarang bertasyabbuh dengan Ahli Kitab dalam banyak hadits, antara lain:

لَئِنْ عِشْتُ إلَى قَابِلٍ لاَصُومَنَّ التَّاسِعَ

Jika saya masih hidup di tahun depan, niscaya akan berpuasa pada hari kesembilanHR Muslim

Ibnu Hajar memberi catatan terhadap hadits tersebut sebagai berikut: “Keinginan beliau untuk berpuasa pada hari kesembilan dibawa maknanya agar tidak membatasi pada hari itu saja. Tapi menggabungkannya dengan hari kesepuluh, baik sebagai bentuk kehati-hatian ataupun untuk menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Dan ini merupakan pendapat yang terkuat dan yang disebutkan oleh sebagian riwayat Muslim.”

Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Belum sampai tahun depan, Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam sudah meninggal dunia.” H.R. Muslim

Semoga kita dapat mengamalkannya dan Allah berkenan menghapuskan dosa-dosa kita setahun lalu. Adapun dosa yang dimaksud di sini ialah dosa kecil, bukan dosa besar. Sebab dosa besar akan diampuni oleh Allah melalui pertobatan. Selain itu, hikmah atau manfaat puasa ‘Asyura akan diperoleh selama melakukan puasa tersebut tidak ada unsur riya dan dilakukan dengan penuh keikhlasan, semata-mata mengharap ridha Allah SWT./IJ

Wallahu A’lam Bish-showwab

LEAVE A REPLY